Mengintip Cara Belajar Siswa di Negara dengan Murid Terpintar di Dunia

12 July 2017

 

Pendidikan memiliki peran penting dalam perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah mengatur sistem pendidikan negaranya masing-masing agar orang-orang di negaranya terdidik dan pintar. Beberapa negara berhasil menerapkan sistem tersebut dan menunjukkan prestasinya di tingkat dunia. Negara manakah yang memiliki murid terpintar di dunia dan bagaimanakah cara belajar siswa di negara tersebut? Berikut ulasannya.

1. Korea Selatan

Korea Selatan

Korea Selatan

Dari sebuah tes sistem edukasi internasional, Korea Selatan menempati urutan pertama, mengungguli Jepang yang selama 3 tahun berturut-turut mempertahankan peringkat tersebut. Angka literasi Korea Selatan mencapai 100% di tahun 2017. Prestasi tersebut bukan tanpa alasan. Meskipun orang-orang Korea hanya wajib belajar hingga 9 tahun (setingkat SMP), namun justru tingkat masuk SMU dan universitas sangat tinggi. Dengan semangat meneruskan pendidikan tinggi ini, mereka menjadi salah satu negara dengan predikat tenaga kerja paling terdidik di seluruh dunia.

Cara belajar siswa di Korea Selatan terkenal cukup ekstrim. Siswa SMU umumnya menghabiskan 8-9 jam di sekolah, 1 jam ekstrakulikuler, 2 jam belajar mandiri (di sekolah), dan 4 jam belajar di rumah. Sekolah dibuka hingga menjelang tengah malam untuk studi mandiri/kelompok. Mereka bahkan masih bisa mengambil mata pelajaran tambahan (tutor/bimbel) dan belajar semakin intensif menjelang ujian masuk universitas.

Meskipun demikian, cara belajar seperti ini memiliki banyak kekurangan. Beberapa menyalahkan sistem belajar atas tingginya angka bunuh diri di kalangan remaja akibat stres belajar dan stres saat gagal masuk universitas.

2. Finlandia

Finlandia

Finlandia

Berbeda halnya dengan Korea Selatan, jam dan cara belajar siswa di Finlandia lebih fleksibel. Siswa SD di Finlandia belajar matematika, sains, seni, olah raga, dan kerajinan tekstil. Sebagian besar pelajaran ini dilaksanakan di luar kelas dengan penuturan yang mudah dimengerti anak-anak. Cara yang tepat dalam mengajar matematika dan sains akan membuat anak bersemangat tanpa merasa terbebani.

Di awal minggu, anak-anak dan guru bersama-sama menentukan apa yang akan mereka pelajari selama seminggu, kemudian anak-anak mengatur sendiri cara menyelesaikannya—termasuk menentukan tugas apa yang akan dikerjakan duluan. Guru mengajarkan siswa cara belajar dan menyelesaikan suatu masalah dengan cara berkesperimen langsung di lab/kelas atau berdiskusi dengan teman dan guru sehingga siswa memiliki kerangka logis. Dengan cara ini, kelas menjadi ramai karena banyak aktivitas yang terjadi. Satu guru mendampingi 9-10 murid di kelas berjumlah 20 orang.

Cara belajar siswa di Finlandia juga terkesan ringan. Setiap 1 jam pelajaran, siswa boleh istirahat selama 15 menit kemudian melanjutkan belajar di kelas. Sebuah penelitian mengatakan, istirahat sebentar di antara pelajaran akan lebih meningkatkan konsentrasi di kelas. Selain itu, siswa tidak perlu khawatir ada kuis, ujian masuk sekolah, ujian tengah semester, ujian kenaikan kelas, maupun ujian nasional. Setelah menyelesaikan wajib belajar di usia 16 tahun, siswa bisa mengikuti tes untuk melanjutkan belajar jalur akademik atau vokasi sebelum melanjutkan ke universitas/politeknik. Meskipun lebih fleksibel, dengan sistem tersebut Finlandia menempati kelompok urutan teratas sistem pendidikan terbaik di dunia.

3. Jepang

Jepang

Jepang

Jepang terkenal bukan hanya karena kemajuan teknologinya, tapi juga etos kerja dan tata krama orang-orangnya. Di antara negara OECD, Jepang unggul dalam bidang matematika dan sains. Cara belajar siswa di Jepang tidak jauh berbeda dengan siswa di Korea Selatan. Tidak heran, angka literasi di Jepang mencapai 100%. Siswa TK dan SD belajar melatih hidup mandiri dalam keseharian, bahkan beberapa belajar memasak dan menjahit. Siswa Jepang mengikuti 7-8 jam pelajaran di ruang kelas ditambah beberapa jam lagi bagi siswa yang mengikuti ekstrakulikuler baik sebelum maupun setelah jam pelajaran. Siswa dievaluasi setiap catur wulan.

Siswa di Jepang juga belajar dengan cara melihat langsung fenomena di sekitarnya. Misalnya, saat mereka akan belajar tentang cuaca, maka mereka akan melihat pergerakan awan di website prakiraan cuaca dari sejenis stasiun BMKG Jepang dan memprediksi cuaca untuk esok hari sebagai tugas kelompok. Tidak hanya kognitif saja, siswa jepang juga belajar bersosialisasi. Sudah tidak aneh jika siswa bergantian menyajikan makan siang untuk guru dan teman-temannya, membersihkan kelas sendiri, dan bekerja sama menyiapkan festival sekolah setiap tahunnya. Kemampuan bersosialisasi ini penting sebab anak akan belajar cara berkenalan dengan teman baru, mengasah empati, dan bekerjasama. Apa pun sistem pendidikannya, setiap siswa memiliki cara belajar masing-masing. Sistem pendidikan memiliki banyak kekurangan, namun bisa dilengkapi dengan peran orang tua untuk memfasilitasi anak-anak agar berkembang sesuai potensinya.

Leave a reply
Tips Menyiapkan Bekal Anak yang Bergizi dan Bagus untuk KecerdasannyaCara Melindungi Anak dari Konten Dewasa di Internet

Leave Your Reply

Your email address will not be published.

Free Call

We are pleased to answer all your questions

+62 888 1 800 900
Recent Posts
Live Chat via Whatsapp!