Anak Hiperaktif atau Hanya Sekadar Aktif? Yuk, Kenali Perbedaannya

26 April 2018

Sebagai orang tua, Bunda mungkin pernah merasa waswas ketika anak bergerak sangat aktif dan cenderung tidak mau diam. Seakan-akan sang anak tidak pernah kehabisan energi dan tidak kenal lelah. Dalam hati mungkin Bunda akan bertanya, “Apakah anak saya anak hiperaktif atau tidak?”

Kekhawatiran ini merupakan hal yang cukup lumrah di masyarakat. Anak yang sangat aktif sering disalahartikan sebagai “anak nakal”, bahkan “anak pembuat onar”. Banyak orang tua mungkin akan menduga-duga anaknya sebagai anak hiperaktif. Akan tetapi benarkah demikian?

Sebelum melabeli anak sebagai hiperaktif, Bunda perlu memahami perbedaan kondisi hiperaktif dengan aktif. Hiperaktif merupakan kondisi yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak. Hiperaktif merupakan salah satu bagian dari ADHD (Attention-deficit/hyperactivity disorder) selain ‘kekurangan perhatian’.

Gangguan perkembangan otak ini yang merupakan perbedaan mendasar anak hiperaktif dengan anak aktif yang memiliki kelebihan energi. Hal ini memiliki implikasi bahwa anak normal mempunyai masa saat dia memiliki aktivitas gerak atau mobilitas yang lebih tinggi dibanding temannya. Sebaliknya, kondisi seorang hiperaktif akan terus berlanjut, bahkan dapat menjadi lebih parah bila tidak ditangani.

Selain dari kondisi fisiologis anak, Bunda dapat melihat perbedaan antara anak hiperaktif dengan anak aktif melalui ciri-ciri perilakunya. Apa saja itu? Simak penjelasannya berikut ini.

Fokus anak

Anak Hiperaktif

blogcdn.com

Tingkat fokus anak saat menyelesaikan suatu aktivitas merupakan gejala yang paling mudah dikenali. Anak normal yang sangat aktif mampu memusatkan perhatiannya kepada suatu tugas serta menyelesaikannya dengan tenang.

Di lain pihak, anak hiperaktif sulit atau bahkan tidak dapat fokus saat mengerjakan suatu aktivitas. Anak tidak mampu berkonsentrasi dan cepat merasa bosan saat melakukan tugas yang diberikan.

Meskipun demikian, Bunda perlu memerhatikan bahwa anak normal yang aktif bisa saja mudah bosan dengan suatu aktivitas. Hal ini bisa jadi disebabkan aktivitas tersebut kurang menarik bagi anak. Pada usia prasekolah, anak normal umumnya memiliki rentang konsentrasi lebih dari 10 menit.

Berhenti saat lelah

Anak Hiperaktif

healthnfairness.com

Kondisi hiperaktif selalu ditandai dengan anak suka melakukan gerakan tanpa maksud yang jelas dan tidak mengenal lelah. Hal-hal kecil di sekelilingnya dapat memicu anak bergerak di tempat yang bukan selayaknya. Sebagai contoh, mengetuk-ketuk meja dan piring saat akan makan atau melompat-lompat sambil berteriak-teriak.

Berbeda dari kondisi hiperaktif, anak normal akan berhenti saat merasa lelah dan beristirahat. Mereka akan cepat mengantuk setelah bermain seharian dan segera tertidur. Anak hiperaktif umumnya sulit mengantuk dan hanya sedikit tertidur.

Sikap dengan orang lain

Anak Hiperaktif

livestrog.com

Ciri umum dari seorang anak hiperaktif ada sikapnya yang cenderung kurang cakap berinteraksi dengan orang lain, seperti:

  • Tidak mau dilarang dan cenderung menentang atau memberontak
  • Mudah emosi saat keinginannya tidak terpenuhi
  • Impulsif sehingga cenderung suka merusak sesuatu seperti mainannya dan tidak sabar
  • Berbicara dengan suara keras bahkan cenderung berteriak. Selain itu, anak suka menyela pembicaraan orang lain.
  • Agresif dan suka mencari perhatian orang lain. Hal ini menyebabkan anak tidak mudah bersosialisasi dengan orang lain.

Anak normal yang aktif tentu memiliki ciri-ciri yang berlawanan, seperti:

  • Mau mematuhi perkataan orang tua serta memiliki niat untuk berbagi dengan orang lain
  • Dapat bermain dengan tenang serta tidak berbicara dengan suara keras.
  • Memiliki kesabaran serta tidak bersikap impulsif.

Bunda perlu memahami bahwa tingkat keaktifan setiap anak berbeda-beda. Oleh sebab itu jangan mudah melabeli anak sebagai hiperaktif hanya karena dia tidak bisa diam.

Mengidentifikasi anak hiperaktif tidak dapat dilakukan dengan sekali observasi. Umumnya, dokter atau psikolog akan mengobservasi anak selama 6 bulan. Apabila dalam kurun 6 bulan observasi tersebut gejala hiperaktif terlihat jelas dan menetap maka diagnosis dapat ditegakkan.

Bila Bunda melihat tanda-tanda hiperaktivitas pada anak, jangan langsung mengambil kesimpulan. Berkonsultasilah kepada dokter atau psikolog untuk penanganannya.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a reply
Yuk kenali perawatan yang tepat untuk anak dengan Down SyndromeAnak Bunda Siap Disunat? Kenali 5 Metode Sunat Populer Ini

Leave Your Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Free Call

We are pleased to answer all your questions
+62 888 1 800 900
Live Chat via Whatsapp!