Si Kecil Merengek Minta HP? Coba Bikin Kontrak Ini dengannya

“Gawai bukanlah musuh”. Itulah yang dikatakan oleh Michelle Lichauco-Tambunting, salah satu pendiri dan kepala Young Creative Minds Preschool di Filipina. Menurut pandangannya, piranti tersebut (baik itu ponsel pintar, tablet, dll) dibutuhkan di era digital. Kenyataan itu, lanjut  Michelle, harus diterima sebagai sebuah fakta oleh para orang tua. Oleh karenanya, kontrol orang tua menjadi kunci untuk mengendalikan pemakaian gawai pada anak-anak. Sebagai contoh, ketika si kecil mulai merengek minta HP, Anda bisa mengajaknya untuk membuat sebuah kontrak. Untuk menyusun isinya, mari simak ulasan di bawah ini.

Menetapkan tanggung jawab

Karena si kecil mulai merengek minta HP, ajak ia untuk menyusun sebuah kontrak aturan dengan Anda. Ini tentunya harus berdasarkan kesepakatan bersama, sehingga anak mau mematuhinya dengan sukarela. Pertama, tetapkan waktu atau kapan anak boleh memakai ponsel tersebut. Misalnya saja, si kecil tidak boleh menggunakan HP ketika berada di meja makan, berkumpul dengan teman-temannya, menjelang tidur, dan seterusnya.

Menulis konsekuensi jika tidak mematuhi kontrak

Selanjutnya, diskusikan tentang apa saja konsekuensi yang akan ditanggungnya apabila melanggar kontrak tersebut. Contohnya, bila si kecil bermain gawai melebihi waktu yang telah disetujui, ia tidak bisa menggunakannya di sesi berikutnya. Ini karena jatah waktunya untuk bermain telah habis. Jika ia kemudian merengek minta HP itu diberikan kepadanya, pastikan Anda tetap bersikap tegas. Ingat, kontrak yang telah Anda buat tidak boleh dilanggar. Sekali saja Anda bersikap lembek kepada si kecil, ia pasti akan mencari celah untuk melanggar kontrak tersebut.

Meminta pihak ketiga sebagai saksi pembuatan kontrak

Ketika si kecil merengek minta HP, ajarkan ia untuk belajar tanggung jawab atas keinginannya. Oleh karena itu, tunjukkan kepadanya bahwa Anda benar-benar menganggap kontrak ini serius. Cara membuktikannya tentu dengan mengajak pihak ketiga sebagai saksi pembuatan kontrak tersebut. Misalnya, Anda bisa meminta pasangan atau kakek-nenek si kecil sebagai saksi.

Hanya Anda yang boleh memasang aplikasi di HP tersebut

Untuk hal yang satu ini, kontrol tetap harus ada di tangan Anda. Pastikan bahwa aturan ini tertulis di kontrak yang Anda buat dengan si kecil. Pilihlah aplikasi yang ramah anak dan dapat meningkatkan kreativitasnya. Anda juga bisa menerapkan filter “kontrol orang tua” pada aplikasi yang sudah Anda pasang. Dengan begitu, si kecil aman dari konten-konten yang berbau pornografi atau SARA.

Jangan terlalu mudah mengubah kontrak

Apa yang telah disepakati di awal adalah aturan yang wajib Anda jaga. Maka dari itu, sebaiknya jangan mudah mengubah kontrak yang sudah dibuat. Itu tentunya bisa membuat Anda terlihat tidak konsisten di depan si kecil. Ditambah lagi, sikap tersebut berisiko ditiru oleh anak Anda. Namun jika memang harus diubah untuk menyesuaikan kondisi yang baru, ajak si kecil untuk duduk bersama. Diskusikan perubahan itu dan buatlah kesepakatan yang baru, yang pastinya harus disetujui oleh kedua belah pihak.

Pemakaian harus disesuaikan dengan usia anak

Terakhir, Anda harus menyesuaikan pemakaian gawai itu dengan usia si kecil. Pedomannya adalah jika anak Anda berusia di bawah 18 bulan, berikan akses hanya ke obrolan video dengan anggota keluarga. Kemudian untuk balita usia 18-24 bulan, Anda bisa memberinya akses ke tontonan atau permainan yang ramah anak. Untuk anak usia prasekolah (2-5 tahun), batasi penggunaan ponsel pintar hanya 1 jam setiap hari. Sedangkan bagi anak usia 6 tahun atau lebih, berikan HP seperlunya saja, dan itu tidak boleh mengganggu aktivitas belajarnya apalagi kegiatannya bersama keluarga.

Kini Anda tak perlu bingung lagi ketika si kecil mulai merengek minta HP. Segera buat kontrak di atas dengannya dan pastikan ia juga mematuhi aturan tersebut.

Exit mobile version