Kemarin, saat kami mempersiapkan snack time di kelas, Rendra anak berusia 3 tahun tiba-tiba nangis tersedu-sedu. Bukannya karena jatuh atau terluka. Dia hanya kesal karena bekal yang dia bawa terlupakan di rumah. Ibu Tina, Miss di kelasnya, tidak langsung berkata, “Jangan nangis, itu kecil sekali,” atau “Nanti ibumu bawakan.” Sebaliknya, dia duduk dekat Rendra dan berkata, “I see you’re sad because you miss your snack from home. That’s okay to feel sad.”
Momen kecil seperti itu adalah bagian penting dari kesehatan mental anak sejak dini. Kami percaya bahwa validasi emosi adalah fondasi yang kuat untuk perkembangan psychological anak yang sehat. Banyak orangtua belum menyadari bahwa kesehatan mental anak sama pentingnya dengan kesehatan fisik mereka, dan bahkan lebih dimulai dari hal-hal sederhana seperti cara kita merespons perasaan mereka.
Mari kami ajak kamu untuk memahami pentingnya kesehatan mental anak dan bagaimana validasi emosi menjadi langkah awal yang powerful dalam melindungi kesejahteraan emotional anak.
Kesehatan Mental Anak: Lebih Penting dari yang Kamu Pikirkan
Kesehatan mental anak mencakup kesejahteraan emosional, sosial, dan psychological mereka secara menyeluruh. Ini bukan hanya tentang anak tidak memiliki masalah mental, tapi tentang anak memiliki tools dan dukungan untuk mengelola emosi, membangun relasi yang sehat, dan berkembang dengan percaya diri.
Penelitian menunjukkan bahwa fondasi kesehatan mental anak terbentuk sejak usia dini, bahkan sebelum mereka masuk sekolah. Pengalaman anak dalam tiga tahun pertama kehidupan sangat mempengaruhi bagaimana mereka merespons stress, bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana mereka melihat diri sendiri. Kesehatan mental anak yang baik sejak dini akan berdampak positif pada kehidupan akademik, sosial, dan emosional mereka di masa depan.
Sayangnya, banyak orangtua masih fokus pada milestone akademik atau fisik saja. Mereka belum menyadari bahwa anak yang merasa aman secara emosional, merasa diterima, dan merasa valid akan lebih siap untuk belajar dan berkembang dalam semua aspek kehidupan.
Validasi Emosi: Dasar Kesehatan Mental Anak yang Kuat
Validasi emosi adalah tindakan mengakui dan menerima perasaan anak tanpa menghakimi atau mencoba mengubahnya. Bukan tentang setuju dengan perilaku anak, tapi tentang mengakui bahwa emosi yang mereka rasakan itu nyata dan penting.
Ketika anak mengatakan “I’m scared,” dan kita respons dengan “Jangan takut, itu cuma cicak,” kita sebenarnya mengatakan bahwa perasaannya tidak valid dan dia salah merasa. Sebaliknya, validasi emosi akan terdengar seperti, “I know you’re scared. Cicak itu memang terlihat menakutkan. Let’s stay together until you feel better.”
Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tapi impact-nya sangat besar. Anak yang emosi-nya divalidasi akan merasa didengar, diterima, dan aman. Mereka juga lebih mungkin untuk terbuka tentang perasaan mereka, mencari bantuan ketika dibutuhkan, dan mengembangkan emotional resilience yang lebih kuat.
Cara-cara sederhana untuk memvalidasi emosi anak:
- Dengarkan anak tanpa langsung memberikan solusi atau saran
- Gunakan kata-kata seperti “I understand,” “That sounds hard,” atau “Your feelings are important”
- Beri nama pada emosi yang anak rasakan untuk membantu mereka mengenali dan memahami diri sendiri
- Hindari frasa seperti “Don’t be sad” atau “Stop crying,” yang sebenarnya menolak emosi mereka
- Tunjukkan dengan bahasa tubuh kamu bahwa kamu benar-benar hadir dan mendengarkan
- Validasi tidak berarti kamu harus setuju dengan perilaku mereka, tapi kamu mengakui perasaan di balik perilaku itu

Image Source: Ai
Bagaimana Validasi Emosi Membangun Fondasi Kesehatan Mental Anak
Ketika anak merasa aman untuk mengekspresikan emosi mereka tanpa takut ditolak atau dikritik, mereka mengembangkan hubungan yang lebih sehat dengan perasaan mereka sendiri. Mereka belajar bahwa semua emosi itu normal dan acceptable, bahkan yang “negatif” seperti marah, sedih, atau takut.
Di Apple Tree Pre-School BSD, kami mengajarkan anak untuk name their emotions sejak dini. Kami memiliki “feelings chart” di setiap kelas di mana anak bisa menunjukkan bagaimana perasaan mereka hari itu. Ini membantu anak mengembangkan emotional vocabulary dan membuat perasaan menjadi sesuatu yang bisa didiskusikan, bukan ditahan.
Ketika anak merasa divalidasi, mereka juga cenderung untuk lebih resilient menghadapi challenges. Mereka tahu bahwa kegagalan atau perasaan negatif itu bagian dari kehidupan, dan mereka memiliki dukungan untuk mengatasinya. Anak yang seperti ini biasanya lebih percaya diri, lebih kolaboratif dengan teman-teman, dan lebih terbuka untuk belajar.
Emosi Negatif Adalah Bagian dari Kehidupan yang Sehat
Kami sering mendengar orangtua berkata, “Saya ingin anak saya selalu bahagia.” Tujuannya baik, tapi filosofinya sedikit bermasalah. Kebahagiaan yang konstan sebenarnya bukan tujuan yang realistic atau bahkan sehat. Anak yang dikondisikan untuk selalu tersenyum atau menyembunyikan perasaan “negatif” akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak bisa mengelola emosi mereka dengan baik.
Emosi “negatif” seperti kecewa, sedih, marah, atau takut adalah bagian natural dari kehidupan manusia. Anak perlu belajar untuk merasakan, memahami, dan mengelola emosi-emosi ini dengan cara yang sehat. Ketika anak diberikan ruang untuk merasa “negatif” tanpa merasa bersalah atau ditolak, mereka sebenarnya sedang belajar emotional regulation yang penting.
Kami lihat ini berkali-kali di kelas. Anak yang dibiarkan untuk merasa sedih atau marah selama beberapa menit, kemudian divalidasi dan didukung, biasanya lebih cepat recover dan lebih siap untuk move forward dibanding anak yang dilarang atau dihukum karena emosi mereka.
Tips mendukung anak melalui emosi yang sulit:
- Izinkan anak merasakan dan mengekspresikan emosi tanpa judgment atau komentar negatif
- Tetap hadir dan tenang, jangan panik atau jadi emosional juga
- Tawarkan comfort fisik seperti pelukan jika anak ingin, tapi respek jika mereka menolak
- Setelah anak lebih tenang, bantu mereka merefleksi apa yang terjadi dan apa yang mereka pelajari
- Jangan gunakan emosi anak sebagai bahan candaan atau cerita yang memalukan di hadapan orang lain
- Ingatkan anak bahwa semua emosi itu temporary dan dia akan merasa lebih baik nanti
Kesalahan Umum Orangtua dalam Merespons Emosi Anak
Banyak orangtua dengan niat baik justru melakukan hal-hal yang merusak kesehatan mental anak. Mereka mungkin mengatakan frasa seperti “Big boys don’t cry,” “Stop being so dramatic,” atau “Kamu terlalu sensitive,” yang sebenarnya mengirimkan pesan bahwa emosi anak itu salah atau tidak layak untuk dirasakan.
Kesalahan lain adalah langsung mencoba “fix” masalah anak tanpa mendengarkan dulu. Anak mengatakan “I’m sad,” dan orangtua langsung pergi belanja mainan baru atau menyetujui permintaan apa pun. Ini sebenarnya mengajarkan anak bahwa emosi mereka bisa “diperbaiki” dengan materi, bukan dengan support emosional yang genuine.
Orangtua juga sering melakukan “toxic positivity,” yaitu mencoba membuat anak langsung merasa positif dengan kalimat seperti “Everything will be fine,” atau “Ada yang lebih menyenangkan, forget about this.” Ini tidak validasi. Ini dismissal yang disamar sebagai motivasi.
Kesehatan mental anak berkembang melalui pengalaman konsisten merasa didengar, diterima, dan didukung, bukan melalui janji bahwa hidup akan selalu menyenangkan.

Image Source: Ai
Mulai Validasi Emosi Hari Ini untuk Kesehatan Mental Anak yang Lebih Baik
Kesehatan mental anak sejak dini adalah investasi terbaik yang bisa kamu lakukan untuk masa depan mereka. Dan langkah pertama yang paling penting adalah dengan memulai validasi emosi mereka. Bukan sesuatu yang rumit atau membutuhkan skill khusus, tapi sekadar kehadiran, mendengarkan, dan mengakui bahwa perasaan mereka itu real dan important.
Ketika kamu memvalidasi emosi anak, kamu tidak hanya membantu mereka hari ini, tapi kamu juga memberi mereka tools untuk mengelola emosi mereka sepanjang hidup. Kamu mengajarkan mereka bahwa semuanya emosi itu acceptable, bahwa mereka tidak perlu bersembunyi atau malu tentang apa yang mereka rasakan, dan bahwa ada orang yang selalu ada untuk mendukung mereka.
Bangun Kesehatan Mental Anak di Lingkungan yang Mendukung Bersama Apple Tree Pre-School BSD
Kami di Apple Tree Pre-School BSD, yang berlokasi di Gedung Educenter BSD, percaya bahwa kesehatan mental anak dimulai dari lingkungan yang safe, supportive, dan validating. Dalam setiap program kami, mulai dari Toddler hingga Kindergarten 2, kami memprioritaskan emotional well-being anak sama besar dengan academic development.
Tim pendidik kami terlatih untuk merespons emosi anak dengan cara yang memvalidasi dan supportif. Kami mengajarkan anak untuk name their emotions, mengelola frustration dengan cara yang sehat, dan mengembangkan relationship yang positif dengan perasaan mereka sendiri. Di setiap kelas, ada space aman di mana anak bisa merasa diterima dengan semua emosi mereka.
Kami juga percaya pada partnership dengan orangtua. Kesehatan mental anak berkembang optimal ketika rumah dan sekolah memiliki approach yang konsisten dan supportive. Oleh karena itu, kami selalu berbagi tips dan insight kepada orangtua tentang bagaimana mereka bisa mendukung emotional development anak di rumah.
Ayo bergabung dengan kami dan berikan anak kamu lingkungan yang truly mendukung pertumbuhan mereka, baik academic maupun emotional! Hubungi kami di WhatsApp atau telepon +62 888-1800-900 untuk konsultasi gratis dan demo kelas. Kamu juga bisa kunjungi Apple Tree Pre-School BSD untuk melihat sendiri bagaimana kami menciptakan lingkungan yang warm, accepting, dan supportive untuk setiap anak.
Mari tumbuh dan bahagia bersama! 🌟