Mengenal Sturdy Parenting, Tren Pola Asuh 2025 yang Lebih Tegas

Mengenal Sturdy Parenting, Tren Pola Asuh 2025 yang Lebih Tegas

“Mama, kenapa sih Rafa nggak boleh main tablet setiap hari?” tanya Keyla sambil memperhatikan adiknya yang kecewa karena ditolak. Bukannya marah, Rafa justru mengangguk-angguk seolah paham alasan mamanya. Ini bukan keajaiban, tapi hasil dari pendekatan parenting yang semakin banyak diterapkan orangtua muda di tahun 2025 – yang disebut sebagai sturdy parenting.

Kalau kamu sering merasa bingung dengan berbagai tren parenting yang muncul setiap tahunnya, kamu nggak sendirian. Dari gentle parenting yang menekankan empati, hingga permissive parenting yang terlalu santai – ada begitu banyak pilihan yang membuat orangtua bingung mana yang sebenarnya tepat. Nah, sturdy parenting hadir sebagai pendekatan yang lebih seimbang dan praktis untuk parenting di era modern.

Di Apple Tree Pre-School BSD yang berlokasi di Gedung Educenter BSD, sturdy parenting telah diterapkan sejalan dengan filosofi pendidikan anak usia dini yang holistik. Dari pengalaman bertahun-tahun mendampingi anak-anak dan orangtua mereka, berikut adalah penjelasan komprehensif tentang sturdy parenting, mengapa banyak yang menyebutnya tren 2025, dan bagaimana cara menerapkannya dengan efektif di rumah.

Apa Itu Sturdy Parenting? Pola Asuh yang Seimbang dan Tegas

Sturdy parenting adalah pendekatan pola asuh yang menggabungkan empati dengan kejelasan batasan. Dalam praktiknya, ini adalah parenting yang “kuat” – tidak terlalu lembut sampai anak jadi spoiled, tapi juga tidak terlalu keras sampai anak jadi ketakutan atau trauma.

Contoh konkret sturdy parenting: ketika anak sedih karena waktu bermain harus berakhir, orangtua tetap berempati: “Aku ngerti kamu sedih karena nggak bisa main lagi,” namun tetap tegas pada batasan yang telah ditetapkan: “Tapi kita udah agree sebelumnya. Sekarang saatnya untuk berhenti.”

Sturdy parenting bukan tentang menjadi “teman” atau “musuh” bagi anak. Ini tentang menjadi orangtua yang respectful namun authoritative – orangtua yang tahu apa yang terbaik untuk anak dan tidak takut untuk menegakkan itu dengan cara yang tetap hangat dan penuh kasih sayang. Anak akan belajar bahwa batasan adalah bentuk cinta, bukan bentuk kontrol.

Sturdy Parenting,

Image Source: Ai

Perbedaan Sturdy Parenting dengan Tren Parenting Lainnya

Memahami sturdy parenting lebih baik dengan melihat bagaimana perbedaannya dengan pendekatan parenting populer lainnya.

Sturdy Parenting vs Gentle Parenting

Gentle parenting sangat menekankan empati dan menghindari punishment. Sementara sturdy parenting juga sangat empathetic, pendekatan ini tidak takut untuk mengatakan “tidak” dengan tegas ketika diperlukan.

Dalam praktik kelas anak, ketika ada anak yang agresif terhadap teman, pendekatan gentle parenting biasanya menjelaskan “Oh, Adi terasa terluka” dan berhenti di situ. Sturdy parenting melakukan lebih: “Kami tidak memukul. Ini adalah konsekuensinya,” dan menegakkan konsekuensi secara konsisten. Kedua pendekatan tetap warm, tetapi sturdy parenting lebih jelas dalam hal clarity dan consistency batasan.

Sturdy Parenting vs Permissive Parenting

Permissive parenting terlalu santai dan jarang menetapkan batasan yang jelas. Sturdy parenting secara fundamental berbeda. Pendekatan ini menetapkan rules yang jelas dan mengharapkan anak untuk mengikutinya dengan konsisten.

Contoh praktik sturdy parenting: “Kamu bisa memilih activities apa yang ingin dilakukan hari ini,” (memberikan choice dan autonomy), “namun kamu harus selesaikan makan siang dulu sebelum main,” (batasan yang jelas). Ini adalah keseimbangan sempurna antara kebebasan dan tanggung jawab yang anak pelajari sejak dini.

Sturdy Parenting vs Authoritarian Parenting

Authoritarian parenting menggunakan prinsip “because I said so!” – orangtua tidak perlu menjelaskan, anak hanya perlu patuh. Sturdy parenting sangat berbeda karena tetap menjelaskan alasan, namun tetap tegas pada keputusan akhir.

Ketika anak bertanya “Kenapa sih harus cuci tangan sebelum makan?”, orangtua sturdy parenting akan menjawab: “Karena kuman di tangan kita bisa bikin sakit. Aku nggak mau kamu sakit, jadi kita selalu cuci tangan sebelum makan.” Anak memahami reasoning di baliknya, sementara tetap ada batasan yang non-negotiable.

Mengapa Sturdy Parenting Menjadi Tren Pola Asuh 2025?

Sturdy parenting semakin menjadi pembicaraan di tahun 2025 karena beberapa faktor signifikan yang mempengaruhi cara orangtua membesarkan anak di era modern.

1. Reaksi terhadap Over-Indulgence Generasi Sebelumnya

Banyak anak yang tumbuh dengan segala yang mereka inginkan akhirnya berjuang dengan frustration tolerance, resilience, dan kemampuan mengambil tanggung jawab. Orangtua muda mulai menyadari bahwa empati saja tidak cukup – anak juga membutuhkan struktur dan batasan yang jelas.

Sturdy parenting hadir sebagai “reset button” untuk menciptakan generasi yang lebih seimbang dalam hal kemampuan menghadapi tantangan dan belajar dari kegagalan. Anak yang dibesarkan dengan sturdy parenting akan lebih equipped untuk menghadapi dunia nyata yang penuh dengan batasan dan konsekuensi.

2. Kebutuhan akan Konsistensi di Era Digital

Era digital membuat anak terekspos dengan begitu banyak stimulasi dan informasi yang tidak terkontrol. Tanpa batasan yang jelas, anak jadi overwhelmed dan sulit fokus. Sturdy parenting menyediakan struktur yang anak butuhkan untuk berkembang sehat.

Contohnya: “Waktu screen time kita batasi dari jam 4-5 sore saja.” Batasan ini jelas, tegas, dan konsisten setiap hari. Anak tahu exactly apa yang diharapkan dan tidak ada ruang untuk negosiasi yang tidak perlu.

3. Mental Health Awareness dan Kebutuhan akan Security

Paradoksnya, terlalu banyak kebebasan tanpa struktur justru bisa menciptakan anxiety pada anak. Sturdy parenting, dengan batasan yang jelas dan pendekatan yang caring, sebenarnya menciptakan sense of security yang anak butuhkan untuk berkembang.

Anak merasa ada orangtua yang strong, reliable, dan dapat diandalkan. Ini memberikan comfort bagi mereka, bahkan jika mereka tidak sepenuhnya menyadarinya. Anak akan tumbuh dengan kepercayaan diri yang lebih baik karena tahu ada orang yang peduli dan konsisten dalam mengajarkan nilai-nilai.

Karakteristik Orangtua yang Menerapkan Sturdy Parenting

Orangtua yang menerapkan sturdy parenting memiliki beberapa karakteristik khas yang membedakan mereka dari pendekatan parenting lainnya.

1. Tegas namun Hangat dalam Komunikasi

Orangtua sturdy parenting tidak ragu untuk mengatakan tidak, namun cara mereka menyampaikannya selalu hangat dan penuh respect. Mereka paham bahwa kejelasan bukan berarti keras – bisa jadi tegas sekaligus penuh kasih sayang.

Contoh komunikasi: “Aku ngerti kamu frustration, tapi ini nggak bisa dinegosiasikan,” dengan tone yang understanding dan bukan harsh atau sinis. Anak akan merasakan bahwa orangtua tetap care, namun punya standar yang harus dipatuhi.

2. Konsisten dengan Peraturan dan Konsekuensi

Konsistensi adalah fondasi sturdy parenting. Kalau orangtua mengatakan tidak hari ini, mereka tidak boleh mengatakan ya besok dengan alasan yang sama. Anak harus tahu bahwa orangtua serius dengan apa yang mereka katakan.

Praktik konsistensi: “Aku tahu kamu minta waktu tablet tambahan, tapi peraturannya sama setiap hari. Nggak berubah-ubah.” Konsistensi seperti ini membangun trust dan respect yang kuat antara orangtua dan anak.

3. Mendorong Kemandirian dan Tanggung Jawab

Sturdy parenting tidak overprotect anak. Sebaliknya, orangtua yang menerapkan pendekatan ini secara aktif mendorong anak untuk mencoba hal-hal baru, membuat kesalahan, dan belajar dari konsekuensi alami yang terjadi.

Contoh: “Kamu bisa memilih untuk membereskan mainan sekarang atau setelah makan malam, tapi ini harus dikerjakan hari ini.” Anak punya autonomy dalam memilih waktu, namun tetap punya responsibility yang jelas untuk menyelesaikan tugas.

4. Validasi Perasaan namun Jelas tentang Perilaku

Ini adalah aspek yang sangat penting dari sturdy parenting: orangtua memvalidasi perasaan anak, namun tidak memvalidasi semua perilaku anak yang mungkin tidak tepat.

Pendekatan praktis: “Aku lihat kamu sedih, dan itu boleh untuk merasa sedih. Tapi kita nggak lempar mainan. Mari kita bicara tentang apa yang mengganggu pikiranmu.” Di sini, perasaan anak diakui dan dihormati, namun perilaku yang tidak pantas diberi batasan yang jelas.

Sturdy Parenting,

Image Source: Ai

Cara Menerapkan Sturdy Parenting di Rumah

Mempelajari teori tentang sturdy parenting sangat baik, namun implementasi praktis adalah yang paling penting. Berikut adalah tips konkret yang bisa langsung diterapkan orangtua di rumah.

1. Tetapkan Peraturan yang Jelas dan Ekspektasi yang Spesifik

Anak membutuhkan clarity tentang apa yang diharapkan dari mereka. Hindari peraturan yang abstrak seperti “jadi anak baik.” Ganti dengan peraturan spesifik yang mudah dipahami dan diikuti.

Contoh peraturan yang jelas:

  • “Kita makan malam bersama jam 6 malam”
  • “Waktu screen adalah 30 menit setelah pekerjaan rumah selesai”
  • “Kami mengucapkan ‘permisi’ dan ‘tolong’ dalam setiap permintaan”

Peraturan yang jelas membuat anak lebih mudah untuk comply dan membuat orangtua lebih mudah untuk menegakkan konsekuensi kalau mereka tidak mengikutinya.

2. Komunikasikan Alasan di Balik Setiap Peraturan

Ini bukan tentang punishment, tapi tentang education. Anak yang memahami alasan di balik peraturan lebih likely untuk menginternalisasi dan mengikuti peraturan bahkan ketika tidak ada orangtua yang mengawasi.

Contoh komunikasi dengan anak: “Kita duduk diam saat makan agar teman-teman kita merasa aman dan nggak takut kena tendangan.” Tiba-tiba anak paham dan dengan lebih rela mematuhi peraturan. Pemahaman ini jauh lebih powerful daripada hanya “karena mama bilang begitu.”

3. Jalankan Konsekuensi dengan Konsisten

Ini adalah bagian paling challenging dalam sturdy parenting. Kalau orangtua menetapkan konsekuensi, mereka harus benar-benar menjalankannya – tidak peduli situasinya seperti apa. Kalau tidak, anak akan belajar bahwa peraturan tidak serius.

Skenario: “Kamu bilang nggak boleh main tablet kalau nggak selesaikan homework. Tapi homework-ku nggak selesai dan kamu masih membiarkan aku main?” Anak akan terus push boundaries kalau tahu orangtua tidak konsisten dalam menegakkan peraturan.

4. Rayakan Pilihan Baik dan Perilaku Positif

Jangan hanya fokus pada mistakes dan perilaku negatif. Berikan acknowledgement ketika anak melakukan hal-hal yang benar.

Contoh: “Aku lihat kamu selesaikan homework tanpa complaining hari ini. Itu menunjukkan tanggung jawab yang besar!” Anak membutuhkan recognition ketika mereka melakukan sesuatu dengan baik – ini lebih powerful daripada punishment untuk membentuk perilaku positif.

Sturdy Parenting untuk Berbagai Usia Anak

Pendekatan sturdy parenting tidak one-size-fits-all. Cara menerapkannya harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, sesuai dengan yang ditawarkan di program kelas berbagai usia.

Toddler (1.5-2 Tahun)

Di usia ini, anak belum sepenuhnya memahami logika kompleks. Sturdy parenting pada tahap ini adalah konsistensi dalam routine dan redirection yang firm namun gentle.

Praktik: “Sekarang saatnya membereskan mainan.” Kalau anak tidak comply, orangtua membersihkan mainan bersama anak sambil menjelaskan alasan. Konsekuensinya natural dan immediate sehingga anak bisa mengerti sebab-akibat.

Pre-Nursery dan Nursery (2-4 Tahun)

Pada tahap ini, anak sudah bisa memahami simple consequence dan reasoning yang lebih jelas. Sturdy parenting melibatkan lebih banyak explanation dan konsistensi dalam menegakkan batasan.

Contoh situasi: “Kamu memukul Zara. Itu sakit baginya. Kamu harus bilang maaf dan nggak boleh memukul lagi.” Anak mulai memahami link antara action dan consequence serta dampak dari perilaku mereka terhadap orang lain.

Kindergarten (4-6 Tahun)

Anak di usia ini sudah cukup capable untuk memahami reasoning yang lebih kompleks. Sturdy parenting pada tahap ini melibatkan diskusi yang lebih dalam dan anak memiliki voice yang lebih besar dalam deciding consequence.

Pendekatan: “Kamu melanggar peraturan tentang screen time. Menurut kamu, apa yang seharusnya terjadi?” Dengan melibatkan anak dalam deciding consequence, mereka akan lebih committed untuk comply dengan peraturan di masa depan.

Kesalahan Umum dalam Menerapkan Sturdy Parenting

Ketika orangtua mencoba menerapkan sturdy parenting, sering terjadi beberapa kesalahan yang bisa mengurangi efektivitas pendekatan ini.

1. Terlalu Fokus pada Kejelasan, Lupa Empati

Sturdy parenting bukan rigid parenting. Kalau orangtua hanya tegas tanpa empati, itu justru jadi authoritarian parenting. Kombinasi antara understanding dengan firmness adalah kunci.

Komunikasi yang tepat: “Aku tahu kamu disappointed, dan itu valid perasaanmu. Tapi jawabannya tetap tidak.” Keseimbangan antara acknowledging feelings dengan enforcing boundaries ini crucial untuk sukses sturdy parenting.

2. Tidak Konsisten dalam Implementasi

Kekonsistenan adalah tulang punggung sturdy parenting. Kalau orangtua strict suatu hari, tapi lenient hari berikutnya, anak akan confused tentang apa yang sebenarnya expected dari mereka. Sturdy parenting membutuhkan konsistensi – ini challenging namun non-negotiable untuk hasil yang optimal.

3. Mengharapkan Pemahaman Tingkat Dewasa dari Anak Kecil

Kalau orangtua punya toddler, jangan mengharapkan mereka memahami reasoning kompleks. Penyesuaian ekspektasi sesuai dengan tahap perkembangan anak adalah esensial untuk sturdy parenting yang effective.

Mengapa Sturdy Parenting Sejalan dengan Filosofi Apple Tree

Pendekatan sturdy parenting sangat sejalan dengan filosofi pendidikan di Apple Tree Pre-School BSD. Di sekolah, anak-anak mengalami struktur yang jelas dengan warmth yang konsisten. Batasan ditegakkan dengan gentle namun firm, dan setiap anak merasa valued dan respected.

Ketika anak mengalami sturdy parenting baik di rumah maupun di sekolah, mereka mengembangkan sense of security dan confidence yang luar biasa. Mereka tahu ada orangtua dan teacher yang benar-benar care, memiliki ekspektasi yang jelas, dan akan follow through dengan konsisten. Ini adalah fondasi untuk anak yang resilient, respectful, dan responsible.

Mari Terapkan Sturdy Parenting Bersama-Sama

Sturdy parenting di tahun 2025 bukan sekadar trend yang akan hilang, tetapi shift fundamental dalam mindset tentang parenting yang lebih sehat dan seimbang. Ini tentang menjadi cukup kuat untuk mengatakan tidak, cukup hangat untuk menjelaskan mengapa, dan cukup konsisten untuk follow through.

Kalau kamu mencari environment dimana anak bisa mengalami sturdy parenting dengan professional dan caring approach, Apple Tree Pre-School BSD siap support kamu. Dengan tim yang terlatih dan filosofi yang solid, sekolah memastikan setiap anak berkembang dengan confidence dan clarity.

Yuk, mulai perjalanan sturdy parenting dengan anak kamu hari ini! Hubungi kami sekarang di WhatsApp dan mari kita diskusikan bagaimana Apple Tree bisa menjadi partner dalam membesarkan anak yang cerdas, bahagia, dan responsible.

Atau telepon langsung ke +62 888-1800-900. Ayo bergabung dengan keluarga Apple Tree dan lihat perbedaannya! 🌟