Kemarin sore, kami melihat sesuatu yang membuat hati kami sedikit sedih di ruang kelas Nursery. Seorang anak bernama Doni sedang menggambar dengan warna-warna cerah, tapi tiba-tiba dia berhenti dan berkata, “Miss, is this wrong? Will Mommy be angry if my drawing is not good?” Umurnya baru 4 tahun, tapi sudah terdengar anxiety dalam pertanyaannya itu.
Pertanyaan Doni membuat kami kembali memikirkan tentang pola asuh otoriter yang sering kami temui pada anak-anak di sekolah. Kami sebagai pendidik di Apple Tree Pre-School BSD melihat langsung bagaimana gaya parenting yang berbeda berdampak pada perkembangan kepribadian anak.
Pola asuh otoriter bukan hanya tentang “kamu harus dengar orangtua,” tapi ada konsekuensi jauh lebih dalam yang akan terbawa anak hingga dewasa. Hari ini kami ingin berbagi insight tentang dampak pola asuh otoriter pada kepribadian anak di masa depan, dan mengapa penting sekali untuk kita pahami hal ini sebagai orangtua.
Memahami Apa Itu Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter adalah gaya parenting yang menekankan kontrol ketat, aturan yang kaku, dan kurangnya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Dalam sistem ini, orangtua adalah pembuat keputusan utama dan anak diharapkan untuk mematuhi tanpa pertanyaan.
“Because I said so, that’s why” atau “Don’t ask, just follow!” adalah frasa-frasa yang sering kami dengar dari cerita anak-anak tentang rumah mereka. Ini adalah ciri khas dari pola asuh otoriter, di mana alasan dan penjelasan tidak dianggap penting.
Penting untuk kita bedakan, pola asuh otoriter bukan sama dengan disiplin. Disiplin yang sehat melibatkan struktur dan aturan yang jelas plus penjelasan mengapa aturan itu ada. Sedangkan pola asuh otoriter hanya fokus pada kontrol dan kepatuhan tanpa dialog.
Dampak Jangka Pendek Pola Asuh Otoriter pada Anak
Dampak dari pola asuh otoriter tidak langsung terlihat dalam waktu singkat, tapi kalau kamu perhatikan dengan seksama, sudah ada tanda-tanda yang bisa kita lihat sejak usia preschool.
1. Anak Jadi Takut Mencoba Hal Baru
Salah satu dampak yang paling jelas adalah anak menjadi kurang berani mengeksplorasi. Ketika anak tumbuh dalam lingkungan di mana kesalahan selalu dipandang sebagai sesuatu yang sangat buruk, mereka akan menghindari risiko.
“Miss, can I use the red color? I’m worried it’s wrong,” kata Zara saat kami sedang art activity. Ini adalah anak yang sebenarnya punya kreativitas tinggi, tapi sudah “terdidik” untuk takut membuat keputusan sendiri.
Di program kelas kami, kami lihat anak-anak yang datang dari lingkungan otoriter selalu menunggu instruksi detail sebelum melakukan sesuatu. Mereka jarang spontan bermain atau mengambil inisiatif.
2. Perilaku Dua Muka, Patuh di Rumah Tapi Nakal di Sekolah
Fenomena ini sangat menarik dan sering kami diskusikan dalam parent-teacher meetings. Ada anak yang sangat patuh dan tenang di rumah karena takut, tapi ketika di sekolah tanpa pengawasan orangtua, mereka menjadi berlebihan dan sulit diatur.
“At home Raka is very good and obedient, but at school he always tries to break the rules,” kami beritahu ke Ibu Ratna. Ini terjadi karena anak mencoba menemukan “kebebasan” yang tidak mereka dapatkan di rumah.
Perilaku dua muka ini menunjukkan bahwa kepatuhan anak terhadap orangtua didasarkan pada fear, bukan pada pemahaman atau nilai-nilai intrinsik.
3. Kesulitan Mengekspresikan Emosi
Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter sering kesulitan mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya. Mereka terbiasa menekan perasaan karena takut dihukum atau tidak disetujui.
“You can’t cry, you can’t be angry, you must always smile,” adalah pesan implisit yang mereka terima. Padahal, emosi adalah bagian normal dari menjadi manusia dan penting untuk anak belajar mengelolanya.

Dampak Jangka Panjang Pola Asuh Otoriter pada Kepribadian Anak
Semakin serius adalah dampak jangka panjang dari pola asuh otoriter yang akan terbawa hingga anak dewasa.
1. Rendahnya Self-Esteem dan Kepercayaan Diri
Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter cenderung memiliki self-esteem yang rendah. Karena mereka jarang mendapat kesempatan untuk membuat keputusan sendiri atau mendapat pujian, mereka mulai percaya bahwa mereka tidak capable.
“I will definitely fail, I always make mistakes,” adalah self-talk yang sering kami dengar dari anak yang datang dari keluarga otoriter. Ini adalah program mental negatif yang akan tertanam kuat dalam psikologi mereka.
Di masa dewasa, anak-anak ini mungkin akan menjadi orang yang selalu meragukan kemampuan diri sendiri, selalu butuh validasi dari orang lain, dan sulit membuat keputusan penting dalam hidup mereka.
2. Kesulitan dalam Hubungan Interpersonal
Anak yang terbiasa dengan komunikasi satu arah di rumah akan kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya. Mereka tidak terbiasa dengan dialog, diskusi, dan negosiasi yang merupakan fondasi hubungan yang baik.
“Why don’t my friends like to play with me?” tanya Yuri dengan wajah sedih. Sering kali, anak-anak ini tidak mengerti mengapa mereka ditolak, padahal mereka hanya mengaplikasikan pola komunikasi yang mereka pelajari di rumah.
Sebagai dewasa, anak-anak dari keluarga otoriter mungkin akan menjadi orang yang dominan dalam hubungan atau sebaliknya, mereka akan menjadi orang yang pasif dan mudah dimanfaatkan.
3. Kecenderungan Pemberontak atau Sebaliknya Terlalu Patuh
Ini adalah dua ekstrim dari dampak yang sama. Ada anak yang menjadi pemberontak terhadap otoritas karena merasa ditekan selama bertahun-tahun. Ada juga anak yang menjadi terlalu patuh dan kehilangan sense of self mereka.
Kedua ekstrim ini sama-sama tidak sehat. Anak yang pemberontak akan terus melawan otoritas dan kesulitan menerima feedback konstruktif. Anak yang terlalu patuh akan menjadi orang yang tidak punya opini sendiri dan mudah dipengaruhi orang lain.
4. Anxiety dan Depression di Kemudian Hari
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter memiliki risiko lebih tinggi mengalami anxiety dan depression di masa dewasa. Tekanan dan stress yang mereka alami sejak kecil meninggalkan jejak pada kesehatan mental mereka.
“I always feel nervous, like something is wrong even though nothing really is,” cerita Sarah, seorang mahasiswa yang baru mengerti bahwa kecemasannya berasal dari kebiasaan hidup di bawah kontrol ketat orangtuanya.

Mengapa Pola Asuh Otoriter Terjadi
Penting untuk kita pahami bahwa mayoritas orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter tidak melakukannya dengan niat jahat. Mereka biasanya dibesarkan dengan cara yang sama dan mereka percaya ini adalah cara terbaik untuk “mendidik” anak.
“I was raised like this and I became a good child, so I will do the same to my child,” adalah pemikiran yang sering kita temui. Mereka tidak menyadari bahwa “baik” dalam konteks mereka adalah obedient, bukan genuinely well-adjusted.
Ada juga orangtua yang menganggap bahwa memberi penjelasan pada anak adalah bentuk kelemahan atau akan membuat anak tidak menghormati mereka. Padahal, penelitian menunjukkan sebaliknya.
Pendekatan Alternatif yang Lebih Sehat
Sebagai pendidik di Apple Tree Pre-School BSD yang berlokasi di Gedung Educenter BSD, kami percaya pada parenting yang authoritative, bukan authoritarian. Ini adalah pendekatan yang menyeimbangkan antara struktur dan fleksibilitas, antara kontrol dan kebebasan.
Dalam pendekatan authoritative, orangtua masih menetapkan aturan dan batasan yang jelas, tapi mereka juga menjelaskan alasan di baliknya. Mereka memberi kesempatan pada anak untuk berbicara dan mengekspresikan pendapat mereka.
“Our rule is we don’t hit our friends because it hurts them and makes them sad. We can be angry, but we need to express it in a different way,” adalah contoh cara menjelaskan aturan dengan cara yang authoritative, bukan authoritarian.
Dalam pendekatan ini, anak belajar disiplin sejati, bukan karena takut punishment, tapi karena mereka memahami konsekuensi dan nilai-nilai di baliknya.
Apa yang Bisa Orangtua Lakukan Mulai dari Sekarang
Kalau kamu menyadari bahwa kamu telah menerapkan pola asuh otoriter, jangan merasa bersalah berlebihan. Yang penting adalah kamu aware dan mau berubah, karena belum terlambat.
Mulai dengan membuka komunikasi dua arah dengan anak. Dengarkan mereka, tanyakan pendapat mereka, dan jelaskan alasan di balik setiap aturan yang kamu buat. Ini akan membangun trust dan mutual respect antara kamu dan anak.
Berikan anak kesempatan untuk membuat keputusan dalam hal-hal kecil. “Which shirt do you want to wear, the red one or the blue one?” “What do you want to play now, puzzle or blocks?” Ini akan membangun confidence dan sense of agency mereka.
Pujian dan apresiasi juga penting. Jangan hanya fokus pada apa yang salah, tapi juga akui apa yang mereka lakukan dengan baik. “You worked hard on this drawing, I can see the difference from last time!”
Tanya Jawab tentang Pola Asuh Otoriter
Q: Apakah pola asuh otoriter selalu buruk? A: Tidak semuanya murni buruk, tapi dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan dampak negatif yang lebih besar dibanding positif. Elemen struktur dari pola asuh otoriter bisa bermanfaat, tapi harus dikombinasikan dengan warmth dan komunikasi.
Q: Bisakah dampak pola asuh otoriter diperbaiki saat anak sudah dewasa? A: Iya, bisa melalui terapi dan self-awareness. Tapi lebih mudah jika diperbaiki sejak dini. Jika kamu adalah anak dari orangtua otoriter, terapi atau coaching bisa membantu kamu break the cycle ini.
Q: Bagaimana jika satu orangtua otoriter dan satu tidak? A: Ini memang challenging, tapi anak bisa belajar beradaptasi dengan kedua gaya. Yang penting adalah kedua orangtua konsisten dalam masing-masing approach mereka dan tidak saling membatalkan.
Mari Berikan Anak Kita Kesempatan untuk Tumbuh dengan Sehat
Pola asuh otoriter mungkin terlihat efektif dalam jangka pendek karena anak langsung patuh. Tapi dampaknya pada kepribadian anak di masa depan jauh lebih signifikan dan bisa merugikan mereka dalam hidup yang panjang.
Kami di Apple Tree Pre-School BSD berkomitmen untuk mendukung orangtua dalam perjalanan parenting yang lebih sehat dan conscious. Melalui berbagai program kelas kami untuk usia Toddler hingga Kindergarten 2, kami tidak hanya mendidik anak, tapi juga bermitra dengan orangtua untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kepribadian anak yang sehat.
Yuk, mulai ubah pola asuh kita menjadi lebih dialogis dan supportif, sehingga anak-anak kita bisa tumbuh menjadi individu yang percaya diri, bahagia, dan well-adjusted! Hubungi kami di WhatsApp untuk diskusi lebih lanjut tentang pola asuh yang sehat, atau telepon langsung ke +62 888-1800-900.
Ayo bergabung dengan keluarga besar Apple Tree dan lihat bagaimana anak-anak kita bisa berkembang dalam lingkungan yang penuh kasih, dukungan, dan penerimaan! 🌟