8 Cerita Pengorbanan Orang Tua untuk Tanamkan Rasa Bakti pada Anak

8 Cerita Pengorbanan Orang Tua untuk Tanamkan Rasa Bakti pada Anak

Ada satu momen yang hampir semua orangtua pernah alami tapi jarang diceritakan. Momen ketika kamu berdiri di depan cermin tengah malam, setelah anak sudah tidur, dan kamu sadar bahwa kamu sudah memberikan semua yang kamu punya hari itu, tenaga, waktu, pikiran, bahkan sepotong mimpimu sendiri, dan kamu tidak menyesal sama sekali.

Itulah yang membuat cerita pengorbanan orang tua menjadi jenis cerita yang paling menyentuh di antara semua jenis cerita yang ada. Bukan karena berlebihan atau dramatis. Tapi karena ia sangat nyata, sangat dekat, dan sangat mudah dikenali oleh siapapun yang pernah dicintai atau yang mencintai seseorang dengan sepenuh hati.

Membacakan cerita tentang kasih dan pengorbanan orangtua kepada si kecil bukan hanya soal mengharukan mereka sampai menangis minta peluk. Ini adalah cara paling lembut untuk menanamkan rasa bakti yang tulus, pemahaman bahwa di balik setiap makanan di meja, setiap seragam sekolah yang rapi, dan setiap malam yang mereka tidur dengan nyaman, ada orangtua yang sudah berjuang dengan cara yang mungkin tidak pernah mereka lihat langsung.

Kami di Apple Tree Pre-School BSD yang berlokasi di Gedung Educenter BSD percaya bahwa karakter anak yang kuat dimulai dari rasa cinta dan hormat kepada orangtuanya. Dan delapan cerita berikut ini adalah cara kami membantu kamu memulai percakapan yang paling penting itu.

Siapkan tisu. Bukan bercanda.

8 Cerita Pengorbanan Orang Tua yang Mengharukan dan Penuh Kasih untuk Dibacakan kepada Si Kecil

Dari kisah ibu yang rela berjuang sendirian, ayah yang menukar mimpinya demi masa depan anak, hingga pengorbanan yang dilakukan dalam diam tanpa pernah meminta terima kasih, semua ada di sini. Setiap cerita kasih sayang orang tua ini dipilih karena kekuatan emosinya yang tulus dan pesannya yang akan bertahan lama di hati si kecil.

1. Ibu Marni dan Sepatu Merah

1. ibu-marni-sepatu-merah-pengorbanan_www.appletreebsd.com

Di sebuah dusun kecil di lereng gunung yang udaranya dingin bahkan di siang hari, tinggal seorang ibu bernama Marni bersama putrinya yang berusia delapan tahun, Sari. Mereka tinggal di rumah papan yang lantainya masih tanah, dengan satu jendela kecil yang kalau angin bertiup kencang selalu berhasil mengirimkan udara dingin masuk meski sudah ditempel plastik tebal.

Marni bekerja sebagai buruh cuci. Setiap pagi sebelum subuh ia sudah bangun, memasak nasi untuk Sari, lalu berjalan dua kilometer menuju rumah-rumah yang memberikan tumpukan cucian untuk ia selesaikan. Tangannya selalu merah dan sedikit pecah-pecah di bagian buku-buku jari karena setiap hari terendam air sabun berjam-jam. Tapi ia tidak pernah mengeluhkannya kepada Sari. Kalau Sari bertanya kenapa tangan ibu merah, Marni selalu menjawab, “Ini tanda ibu sehat dan kuat.”

Suatu hari di pasar, Sari berhenti di depan toko sepatu dan menatap sepasang sepatu merah dengan sol karet tebal dan tali yang bisa dikancing dengan bunyi klik yang memuaskan. Sari tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap, lalu menarik tangan Marni dan melanjutkan jalan.

Tapi Marni melihat. Ia selalu melihat.

Seminggu kemudian, tanpa sepengetahuan Sari, Marni mulai mengurangi jatah makannya sendiri. Kalau biasanya ia makan dua centong nasi saat sarapan, ia mulai makan satu centong saja, sisanya ia masukkan ke mangkuk Sari yang sudah tidur kembali setelah subuh. Kalau biasanya ia beli tempe dan tahu di pasar, ia mulai hanya beli tahu saja dan tempenya ia ganti dengan daun singkong dari kebun belakang.

Uang yang tersimpan dari penghematan itu ia simpan di bawah lipatan kain sarungnya yang paling dalam.

Tiga minggu berjalan. Marni mulai terlihat lebih kurus. Pipinya sedikit lebih cekung. Tapi matanya tetap cerah setiap kali Sari bercerita tentang sekolah.

Di hari ulang tahun Sari yang ke delapan, Marni bangun lebih pagi dari biasanya. Ia memasak nasi goreng dengan telur, sesuatu yang hanya terjadi di hari-hari istimewa. Di atas meja, di samping piring nasi goreng itu, ada sebuah bungkusan kecil dibungkus koran bekas yang dilipat rapi dan diikat dengan tali rafia merah yang sedikit kusut karena sudah dipakai ulang tiga kali.

Sari membuka bungkusan itu dengan hati-hati seperti membuka sesuatu yang sangat berharga. Di dalamnya adalah sepatu merah yang sama persis dengan yang ia lihat di pasar tiga minggu lalu.

Sari menatap sepatu itu lama. Lalu menatap tangan Marni. Tangan yang merah dan pecah-pecah. Lalu menatap wajah Marni yang sedikit lebih kurus dari biasanya tapi tersenyum dengan cara yang tidak bisa Sari artikan waktu itu karena ia masih terlalu kecil.

“Ibu dapat dari mana?”

“Dari bekerja,” jawab Marni sederhana.

Sari memeluk ibunya sangat erat. Terlalu erat untuk anak delapan tahun. Seperti ia sudah mengerti sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata.

Marni memejamkan mata dalam pelukan itu. Tangannya yang merah dan pecah-pecah mengelus punggung Sari dengan lembut. Di momen itu, semua rasa lapar yang sudah ia tahan selama tiga minggu, semua kelelahan yang ia simpan sendirian, semuanya terasa sepadan dengan cara yang tidak bisa dihitung oleh angka apapun.

Sari mengenakan sepatu merah itu ke sekolah hari itu. Ia berjalan dengan cara yang berbeda dari biasanya, sedikit lebih tegak, sedikit lebih hati-hati, seolah tahu bahwa yang ada di kakinya bukan sekadar sepatu. Ia tahu ada sesuatu yang lebih besar dari itu yang ia bawa setiap langkahnya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Sari sudah dewasa dan ibunya sudah tua dan rambutnya sudah banyak yang putih, Sari masih menyimpan sepatu merah itu di dalam kotak khusus di lemarinya. Sudah tidak bisa dipakai tentu saja karena kakinya sudah jauh terlalu besar. Tapi ia tidak pernah membuangnya.

Karena di dalam kotak itu tersimpan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan harga apapun, yaitu bukti bahwa pernah ada seseorang yang rela lapar demi memastikan kamu tersenyum di hari ulang tahunmu.

2. Ayah di Balik Tiket Kereta

2. anak-laki-laki-di-kereta-membaca-surat-ayah_www.appletreebsd.com

Pak Hendra bekerja sebagai penjaga malam di sebuah gedung perkantoran di kota. Jam kerjanya dimulai pukul delapan malam dan berakhir pukul delapan pagi. Artinya, setiap hari ia pulang ke rumah tepat ketika anaknya, Doni, berangkat ke sekolah. Mereka berpapasan di pintu, kadang hanya sempat bertukar senyum dan usapan kepala sebelum masing-masing melanjutkan arah yang berlawanan.

Doni tumbuh dengan memori yang sedikit berbeda dari anak-anak lain. Kalau teman-temannya punya cerita tentang main sepak bola sore dengan ayah, Doni tidak punya itu. Yang ia punya adalah cerita tentang catatan-catatan kecil yang selalu ada di meja makan setiap pagi, ditulis dengan tulisan tangan ayahnya yang agak miring ke kanan.

“Doni, jangan lupa sarapan. Nasi di magic com masih hangat.”

“Doni, ada ulangan hari ini? Semangat. Kamu pasti bisa.”

“Doni, hujan kemarin. Sepatu kamu sudah ibu keringkan, ada di rak.”

Catatan-catatan kecil itu datang setiap hari tanpa pernah absen selama bertahun-tahun, bahkan di hari-hari ketika Pak Hendra pasti sangat lelah setelah jaga malam sehingga bahkan menulis tiga kalimat pun adalah usaha yang butuh kemauan lebih dari yang orang lain bayangkan.

Ketika Doni kelas lima SD, sekolahnya mengadakan studi banding ke kota lain dengan kereta. Biayanya tidak sedikit dan Pak Hendra harus mengambil shift tambahan selama dua minggu untuk menutupinya. Ia tidak cerita kepada Doni tentang shift tambahan itu. Yang Doni tahu hanya bahwa tiket keretanya sudah dibayar dan ada uang saku di amplop kecil yang diselipkan di sela-sela buku tasnya.

Di dalam amplop kecil itu, bersama uang saku yang cukup untuk makan tiga hari, ada secarik kertas dengan tulisan miring ke kanan yang sudah sangat Doni kenal.

“Doni, ini pertama kalinya kamu pergi jauh sendiri. Ayah tidak bisa ikut, tapi hati ayah ikut. Jaga diri, jaga barang, dan jangan lupa makan. Kalau kangen, lihat keluar jendela kereta. Langitnya sama dengan langit yang ayah lihat dari sini.”

Doni membaca catatan itu di dalam kereta, ketika teman-temannya sudah sibuk ribut dan tertawa. Ia lipat kertas itu dengan sangat hati-hati, memasukkannya ke saku kemeja paling dalam, dan menoleh ke jendela kereta.

Di luar, langit sore berwarna jingga keemasan. Dan Doni, untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang masih sebelas tahun, mengerti sesuatu yang tidak bisa ia pelajari dari buku sekolah manapun. Bahwa kehadiran seseorang tidak selalu berwujud tubuh yang ada di sampingmu. Kadang ia hadir dalam bentuk catatan kecil di meja makan, dalam tiket kereta yang sudah dibayar, dalam amplop dengan tulisan miring ke kanan yang tidak pernah absen meski penulisnya pasti sangat lelah.

Pak Hendra tidak pernah tahu bahwa Doni menyimpan semua catatan-catatan kecil itu. Semuanya, dari yang pertama sampai yang terakhir, tersimpan rapi di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidur Doni.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Doni sudah jadi ayah sendiri, kebiasaan itu turun kepada anaknya. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, selalu ada catatan kecil di meja makan dengan tulisan yang kali ini miring ke kiri, sedikit berbeda tapi nadanya persis sama hangat dan penuhnya.

Warisan terbesar Pak Hendra kepada Doni bukan tanah atau tabungan. Ia adalah kebiasaan hadir dengan cara yang paling sederhana, dengan menunjukkan bahwa kamu memikirkan seseorang bahkan ketika kamu tidak bisa ada secara fisik di sisinya.

3. Ibu yang Menjual Rambutnya

3. anak-memeluk-ibu-berambut-pendek-di-dapur_www.appletreebsd.com

Di kota kecil yang dikelilingi kebun tebu, seorang ibu muda bernama Lastri membesarkan tiga anak seorang diri setelah suaminya meninggal karena sakit dua tahun yang lalu. Anak tertuanya, Bagas, berusia dua belas tahun. Yang tengah, Nita, sembilan tahun. Yang bungsu, Aldi, baru enam tahun dan masih sering mimpi tentang ayahnya dan bangun dengan pipi basah.

Lastri menjual jajanan di depan sekolah, mulai dari jam setengah tujuh pagi sampai jam sebelas siang. Penghasilannya cukup untuk makan tiga kali sehari asal tidak ada pengeluaran mendadak. Tapi hidup jarang sekali sepakat dengan rencana yang sudah dibuat dengan hati-hati.

Bulan itu, Bagas harus membayar biaya ujian akhir semester yang tidak bisa ditunda. Nita butuh buku gambar dan cat air untuk kelas seni yang nilainya masuk rapor. Dan Aldi, si bungsu, tiba-tiba demam tiga hari yang membutuhkan obat dari apotek yang tidak murah.

Lastri duduk di dapur setelah anak-anaknya tidur, membuka celengan ayam jago yang ia simpan di atas lemari, dan menghitung isinya dengan teliti. Kurang. Masih kurang untuk menutupi semuanya.

Ia duduk lama di dapur yang sudah dimatikan lampunya untuk menghemat listrik, dalam gelap yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela kecil. Tangannya memegang celengan yang sudah kosong. Di kepalanya ia menghitung dan menghitung dan menghitung.

Sampai matanya jatuh pada bayangan dirinya sendiri di jendela. Rambutnya yang panjang hitam sampai pinggang berkilau sedikit di cahaya bulan.

Keesokan paginya, sebelum anak-anak bangun, Lastri pergi ke salon kecil di ujung gang. Ia keluar dari sana dengan rambut pendek sebahu dan sebuah amplop yang berisi uang hasil menjual rambut panjangnya kepada pengusaha rambut palsu yang bekerja sama dengan salon itu.

Ketika Bagas bangun dan melihat ibunya, matanya langsung membulat. “Ibu kenapa potong rambut?”

Lastri mengusap rambutnya yang kini hanya sebahu. “Sudah kepanasan. Lagipula enak pendek, lebih praktis.”

Bagas menatap ibunya agak lama. Ia dua belas tahun, sudah cukup besar untuk menangkap sesuatu yang tidak diucapkan. Tapi ia belum cukup besar untuk tahu harus berkata apa, jadi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk ibunya dari belakang saat Lastri sedang menyiapkan sarapan, lebih lama dari biasanya.

“Kenapa?” tanya Lastri.

“Enggak,” jawab Bagas. “Kangen aja.”

Lastri tersenyum menghadap kompor yang tidak bisa melihat senyumnya. Matanya sedikit panas tapi ia berhasil tidak menangis. Karena tugas ibunya hari itu masih panjang dan tidak ada waktu untuk menangis.

Nita mendapat buku gambar dan cat airnya. Aldi sembuh dari demam. Bagas membayar biaya ujian tepat waktu.

Dan Lastri berjualan lagi keesokan harinya, di depan sekolah yang sama, dengan rambut sebahu yang ternyata lebih mudah diatur dan lebih tidak kepanasan, persis seperti yang ia bilang kepada Bagas, meski alasan sesungguhnya tersimpan di dapur gelap pada malam itu, hanya diketahui oleh dirinya sendiri, bayangan di jendela, dan cahaya bulan yang tidak pernah bercerita kepada siapapun.

4. Ayah yang Tidak Pernah Sakit di Depan Anaknya

4. ayah-lelah-di-depan-cermin-kamar-mandi_www.appletreebsd.com

Pak Rudi adalah seorang sopir truk yang tubuhnya besar dan suaranya dalam, tipe orang yang kalau tertawa ruangan terasa bergetar sedikit. Anaknya, Mega, selalu merasa aman setiap kali Pak Rudi ada karena bagi Mega, ayahnya adalah orang terkuat yang pernah ia kenal.

Pak Rudi tidak pernah sakit. Setidaknya itu yang Mega percaya selama bertahun-tahun.

Kalau Mega flu, Pak Rudi yang membelikan obat, mengganti kompres, dan duduk di pinggir tempat tidur sampai Mega tertidur. Kalau Mega jatuh dan lututnya berdarah, Pak Rudi yang membersihkan lukanya dengan tenang sambil cerita lucu untuk mengalihkan perhatian Mega dari rasa sakit. Kalau ada petir yang keras di malam hari dan Mega takut, Pak Rudi yang datang ke kamar dan bilang bahwa petir itu cuma langit sedang berlatih drum.

Pak Rudi tidak pernah sekalipun memperlihatkan bahwa ia sakit atau lelah di depan Mega.

Tapi suatu malam, Mega tidak bisa tidur dan pergi ke dapur untuk minum air. Di jalan menuju dapur, ia melewati kamar mandi yang pintunya tidak tertutup rapat, dan dari celah pintu itu ia melihat ayahnya berdiri di depan wastafel, tangan bertumpu di tepinya, kepala menunduk, dan bahunya naik turun dengan napas yang berat.

Mega berhenti. Ia belum pernah melihat ayahnya seperti ini.

Pak Rudi tidak tahu ada yang melihat. Ia mengangkat kepalanya, menatap cermin, dan Mega melihat wajah ayahnya yang biasanya sangat kuat itu tampak lelah dengan cara yang berbeda dari sekadar ngantuk. Ada sesuatu di matanya yang Mega tidak bisa beri nama karena tidak punya pengalaman sebelumnya tentang melihat ayahnya tidak baik-baik saja.

Pak Rudi membasuh mukanya, mengambil napas panjang, lalu meluruskan punggungnya. Dan ketika ia memalingkan badan dari cermin, ekspresi lelah itu sudah tidak ada lagi. Ia sudah kembali menjadi Pak Rudi yang Mega kenal.

Mega cepat-cepat menghindar ke sudut gelap lorong dan pura-pura baru saja keluar dari kamarnya ketika Pak Rudi melintas.

“Ayah, Mega mau minum air,” kata Mega dengan suara yang ia usahakan terdengar biasa.

“Iya, hati-hati gelap,” kata Pak Rudi sambil mengelus kepala Mega dengan tangan besarnya. Suaranya dalam dan tenang seperti biasa.

Mega mengambil air minumnya dan kembali ke kamar. Ia berbaring di tempat tidur dengan mata terbuka menatap langit-langit kamar. Di kepalanya ada sesuatu yang baru ia mengerti dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa ia artikan.

Ayahnya kuat bukan karena ia tidak pernah merasa lelah atau sakit. Ayahnya kuat karena ia memilih, setiap hari, untuk tidak memperlihatkannya. Bukan karena sok hebat. Tapi karena ia tidak mau Mega tidur malam dengan memikirkan apakah ayahnya baik-baik saja.

Perlindungan yang paling kuat kadang berbentuk bukan dari melakukan sesuatu yang besar dan terlihat, melainkan dari menyembunyikan sesuatu yang berat supaya orang yang kamu cintai bisa tidur nyenyak tanpa beban.

Keesokan paginya, Mega bangun lebih pagi dari biasanya. Ia menyeduhkan teh hangat untuk ayahnya yang sedang bersiap-siap untuk berangkat. Pak Rudi menerima cangkir itu dengan sedikit terkejut karena Mega tidak pernah melakukan ini sebelumnya.

“Kenapa?” tanya Pak Rudi.

“Enggak kenapa-kenapa,” jawab Mega. “Biar hangat aja.”

Pak Rudi minum tehnya dengan senyum yang sedikit lebih lama dari biasanya. Ia tidak tahu bahwa semalam Mega melihat sesuatu yang mengubah cara Mega memandangnya untuk selamanya, bukan lebih kecil, tapi justru jauh lebih besar dari sebelumnya.

5. Surat yang Tidak Pernah Terkirim

5. anak-menangis-memeluk-ibu-dengan-tumpukan-surat_www.appletreebsd.com

Bu Santi adalah guru SD di sebuah kecamatan terpencil yang untuk sampai ke sana harus naik ojek dua jam dari kota terdekat. Gajinya tidak besar, cukup untuk hidup sederhana bersama satu-satunya anaknya, Rina, yang sejak kecil selalu bilang ingin jadi dokter.

Setiap kali Rina bilang itu, Bu Santi tersenyum dan bilang, “Kamu pasti bisa.” Bukan kalimat kosong. Karena Bu Santi sudah memutuskan jauh sebelum Rina bilang itu bahwa apapun yang dibutuhkan untuk mewujudkannya, ia akan cari caranya.

Rina tumbuh dan memang pintar. Ia lolos masuk ke SMA terbaik di kota yang jaraknya jauh dari kampung mereka. Artinya Rina harus kost. Artinya ada biaya tambahan yang cukup besar setiap bulannya. Bu Santi mulai mengajar les privat setiap sore dan malam, pulang ke rumah yang sudah gelap, makan malam yang sudah dingin, dan tidur dengan kaki yang pegal karena seharian berdiri mengajar.

Tapi yang tidak ada yang tahu adalah bahwa setiap malam setelah semua pekerjaan selesai, Bu Santi duduk di meja makan dan menulis surat kepada Rina. Surat yang panjang, berisi cerita tentang hari itu, tentang murid-murid sekolah yang lucu, tentang kebun di belakang rumah yang tomatnya sudah merah, tentang kucing tetangga yang lagi-lagi masuk ke dapur dan mencuri ikan.

Tapi surat-surat itu tidak pernah dikirim.

Bukan karena Bu Santi lupa. Tapi karena ia sengaja tidak mengirimnya. Ia khawatir kalau Rina membaca tentang betapa sepinya rumah sejak Rina pergi, betapa repotnya hidup dengan dua pekerjaan sekaligus, Rina akan merasa bersalah. Dan rasa bersalah bisa merusak konsentrasi belajar.

Jadi surat-surat itu tersimpan di laci meja makan, menumpuk bulan demi bulan, tahun demi tahun.

Ketika Rina pulang ke rumah setelah lulus SMA dengan nilai terbaik dan diterima di fakultas kedokteran perguruan tinggi negeri di ibu kota, ia membuka laci meja makan mencari gunting dan menemukan tumpukan amplop yang sudah kuning sedikit di tepinya.

Ia membaca satu. Lalu dua. Lalu tiga. Ia duduk di kursi dapur dan membaca semua surat itu satu per satu, ratusan surat yang mencakup tiga tahun kehidupan ibunya yang tidak pernah ia lihat langsung.

Bu Santi masuk ke dapur dan mendapati Rina dengan mata yang sudah sangat merah dan tumpukan amplop di atas meja.

“Ibu kenapa tidak pernah kirim?”

Bu Santi duduk di kursi sebelah Rina. “Karena kalau ibu kirim, kamu pasti kepikiran. Dan ibu tidak mau kamu kepikiran. Ibu mau kamu fokus.”

Rina memeluk ibunya sangat erat. Bu Santi membalas pelukan itu dengan tenang, dengan tangan yang sudah lebih kasar dari tiga tahun yang lalu karena pekerjaan yang bertambah.

“Rina akan jadi dokter terbaik,” kata Rina dengan suara yang teredam di bahu ibunya.

“Ibu tahu,” jawab Bu Santi. Suaranya tenang. Tidak ada keraguan di dalamnya sedikitpun. “Ibu selalu tahu.”

6. Kisah Mak Ijah dan Satu Piring yang Selalu Penuh

6. mak-ijah-dan-anak-makan-bersama_www.appletreebsd.com

Di sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta, ada satu kebiasaan yang sudah berlangsung selama hampir dua puluh tahun dan tidak pernah berubah sekali pun.

Setiap pagi, Mak Ijah bangun pukul empat dan memasak untuk empat anaknya. Nasi, sayur, lauk seadanya tapi selalu hangat dan selalu ada. Ketika anak-anaknya duduk di meja makan, piring mereka selalu penuh. Piring Mak Ijah sendiri selalu setengah isi, kadang lebih sedikit dari itu.

Kalau ada yang bertanya, “Mak nggak lapar?” Jawabannya selalu sama yaitu “Mak sudah makan dari dapur tadi.”

Tapi dapur tidak pernah menyimpan bukti dari makan yang dimaksud Mak Ijah. Karena yang sebenarnya terjadi adalah setiap kali makanan kurang, Mak Ijah mengukur porsinya sendiri sesuai dengan sisa yang ada setelah anak-anaknya mendapat bagian mereka yang penuh.

Anak keduanya, Samsul, menyadari kebiasaan ini ketika ia sudah berumur lima belas tahun. Suatu pagi ia sengaja datang ke dapur lebih pagi dari biasanya dan duduk diam di sudut, mengamati.

Ia melihat ibunya memasak nasi, menghitung porsinya dengan mata yang sudah sangat terlatih, mengambil sedikit lebih dari yang cukup untuk semua anaknya, dan kemudian mengambil sisa paling kecil untuk dirinya sendiri tanpa satu pun ekspresi yang menunjukkan ini ada hubungannya dengan pengorbanan. Mak Ijah melakukannya seperti ia melipat kain, seperti aktivitas biasa yang tidak perlu diberi nama khusus.

Samsul tidak berkata apa-apa pagi itu. Ia duduk di meja makan bersama saudara-saudaranya dan makan dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya, lebih pelan, lebih sadar tentang setiap suapan yang masuk ke mulutnya.

Setelah anak-anak sekolah dan Mak Ijah duduk di teras menjahit pesanan, Samsul mendekatinya dan duduk di sampingnya.

“Mak, Samsul mau minta sesuatu.”

“Apa?”

“Mulai besok, Mak makan dulu sebelum anak-anak. Dan porsinya harus sama.”

Mak Ijah mendongak dari jahitannya. “Kenapa?”

“Karena Samsul sudah lima belas tahun makan duluan sebelum Mak. Sekarang giliran Mak.”

Ada jeda yang panjang. Mak Ijah menatap Samsul dengan ekspresi yang tidak bisa Samsul baca sepenuhnya. Bukan sedih, bukan terkejut, sesuatu di antara keduanya.

Lalu Mak Ijah menepuk tangan Samsul sekali, cara ia menunjukkan kasih sayang yang tidak pernah berubah sejak Samsul kecil, dan kembali menjahit.

Keesokan paginya, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, piring Mak Ijah di atas meja sama penuhnya dengan piring anak-anaknya. Dan Mak Ijah duduk dan makan bersama mereka, bukan setelah mereka, bukan dari sisa.

Mak Ijah makan perlahan dan tidak banyak bicara pagi itu. Tapi Samsul melihat bahwa ada sesuatu di wajah ibunya yang berbeda dari biasanya, sesuatu yang ringan dan hangat dan terlihat seperti orang yang untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama, diizinkan untuk menerima.

7. Tas Lusuh yang Tidak Mau Diganti

7. ayah-kurir-melihat-tas-baru-dari-anak_www.appletreebsd.com

Pak Gunawan bekerja sebagai kurir pengiriman paket selama dua puluh dua tahun. Setiap hari ia mengendarai motornya dari satu alamat ke alamat lain, dari pagi sampai sore, dengan helm yang catnya sudah mulai mengelupas dan tas kurir berwarna cokelat yang sudah sangat lusuh.

Rekan-rekan kerjanya sudah berganti tas kurir beberapa kali selama dua puluh dua tahun itu. Tas lama dijual, dibeli yang baru, dirawat. Tapi Pak Gunawan tidak pernah mengganti tasnya. Setiap kali ada yang menawarkan untuk membeli tasnya yang sudah lusuh atau menyarankan untuk beli yang baru, Pak Gunawan selalu menolak dengan alasan yang terdengar berbeda-beda tiap kalinya.

“Masih kuat ini.”

“Sayang buang-buang uang.”

“Aku sudah terbiasa dengan yang ini.”

Yang tidak pernah ia ceritakan adalah alasan sesungguhnya.

Anaknya, Dito, saat ini sedang kuliah semester tiga di universitas yang lumayan mahal uang semesternya. Pak Gunawan sudah menghitung dengan sangat teliti bahwa kalau ia menghemat di sini dan di sana, termasuk tidak membeli tas kurir baru seharga tiga ratus ribu rupiah yang sudah cukup lama ia tunda, uang itu bisa menutupi sebagian biaya fotokopi dan buku teks Dito yang bulan ini lebih banyak dari biasanya.

Tiga ratus ribu rupiah. Mungkin kecil bagi sebagian orang. Tapi bagi Pak Gunawan yang menghitung setiap lembarnya dengan cermat agar semua kebutuhan Dito tercukupi, tiga ratus ribu rupiah adalah angka yang muncul dalam hitung-hitungannya hampir setiap malam.

Suatu sore, Dito pulang ke rumah untuk akhir pekan dan menemukan ayahnya sedang menambal tas kurirnya yang lama dengan jarum dan benang, memperbaiki jahitan di bagian gesper yang sudah mulai lepas.

Dito melihat tas itu. Kemudian melihat tangannya ayahnya yang dengan sabar menjahit bagian yang robek. Kemudian melihat layar ponselnya di mana tadi siang ia sempat mengirim pesan ke ibunya minta uang lebih untuk beli sepatu baru karena yang lama sudah sedikit lecet.

Ia memasukkan ponselnya ke saku celananya tanpa mengirim pesan itu.

Seminggu kemudian, ketika Pak Gunawan sedang tidak di rumah, Dito pergi ke toko perlengkapan kurir dan membeli sebuah tas kurir baru yang sederhana tapi kuat. Tidak yang paling mahal. Yang paling tangguh untuk harga yang paling masuk akal.

Ia menaruhnya di atas meja makan dengan sebuah catatan kecil yang ia tulis dengan tangan.

“Buat Ayah yang tasnya sudah berjasa lebih dari cukup. Ini dari Dito, dari uang yang Dito kumpulkan sendiri.”

Pak Gunawan pulang dan menemukan tas itu. Ia membaca catatan itu dua kali. Kemudian meletakkan catatannya di samping tas lama yang sudah ia jahit berkali-kali itu.

Ia tidak langsung memakai tas barunya keesokan harinya. Ia memakainya seminggu kemudian, setelah sebelumnya duduk cukup lama menatap dua tas itu bersama di atas meja, yang lama dan yang baru, dan menimbang sesuatu yang tidak bisa ditimbang dengan tangan.

Tas lama itu kemudian ia simpan di rak atas lemari pakaiannya. Tidak dibuang. Tersimpan rapi dengan cara yang orang biasanya menyimpan sesuatu yang punya nilai berbeda dari nilai materialnya.

8. Pelukan yang Selalu Ada

8. anak-remaja-memeluk-ibunya-di-tempat-tidur_www.appletreebsd.com

Nina tidak ingat kapan terakhir kali ibunya tidak memeluknya sebelum tidur.

Sejak ia masih bayi, setiap malam tanpa pernah absen, ibunya yang bernama Bu Wati selalu datang ke kamarnya menjelang tidur dan memeluknya. Ketika Nina masih kecil, pelukan itu panjang dan ibunya kadang ikut tertidur di sisinya. Ketika Nina sudah sekolah, pelukan itu lebih singkat tapi tidak kurang hangatnya. Ketika Nina sudah remaja dan kadang merasa sudah terlalu besar untuk dipeluk, Bu Wati tetap datang, dan Nina yang awalnya pura-pura menggerutu akhirnya selalu membalas pelukan itu.

Bu Wati punya penyakit sendi yang sudah lama. Lutut dan pergelangan tangannya sering nyeri, terutama di malam hari setelah seharian bekerja. Dokter sudah menyarankan untuk banyak istirahat dan mengurangi aktivitas yang membebani sendinya.

Nina tidak tahu betapa sakitnya lutut Bu Wati setiap malam ketika ibunya harus berdiri dari kursi, berjalan ke kamar Nina, berlutut sedikit untuk memeluk Nina yang sudah berbaring, lalu kembali ke kamarnya sendiri.

Yang Nina tahu hanya bahwa ibunya selalu datang. Setiap malam. Tanpa pernah tidak ada.

Suatu malam, Nina pulang terlambat dari kegiatan sekolah dan langsung masuk ke kamarnya dengan kelelahan. Ia berpikir ibunya pasti sudah tidur dan tidak akan datang malam itu karena sudah terlalu larut.

Ia salah.

Lima belas menit setelah Nina berbaring, pintu kamarnya terbuka perlahan. Bu Wati masuk dengan langkah yang sedikit lebih hati-hati dari biasanya, karena malam ini lututnya sedang lebih nyeri dari biasanya karena cuaca yang berubah.

Bu Wati duduk di pinggir tempat tidur dan memeluk Nina dari samping.

Nina yang tadinya setengah mengantuk membuka matanya dan mendengar sesuatu yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya, tarikan napas ibunya yang sedikit menahan sesuatu ketika bergerak.

“Ibu, lututnya sakit?”

“Enggak.” Jawaban yang sama seperti selalu.

“Ibu.”

Jeda singkat.

“Sedikit. Tapi tidak apa-apa.”

Nina tidak berkata apa-apa lagi. Ia balik badan dan memeluk ibunya, bukan dimeluk, tapi memeluk, membalikkan posisi yang sudah berlangsung sepanjang hidupnya. Dan untuk beberapa menit, mereka berdua diam dalam pelukan yang entah siapa yang memulai dan entah siapa yang menutup.

Bu Wati kembali ke kamarnya dengan langkah yang sama hati-hatinya. Tapi kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda di cara ia berjalan, sedikit lebih ringan, meski lututnya belum juga berhenti nyeri.

Keesokan harinya, Nina yang biasanya hanya makan pagi lalu langsung sekolah, bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan untuk ibunya, meletakkannya di meja makan, dan menunggu sampai Bu Wati keluar dari kamar sebelum berangkat.

Bu Wati melihat meja yang sudah diatur dan anaknya yang berdiri di dapur dengan celemek yang salah dipakai.

“Kamu masak?”

“Coba,” jawab Nina. “Rasanya mungkin belum seenak masakan Ibu. Tapi Nina usahain.”

Bu Wati duduk di meja makan. Ia mencicipi masakannya. Dan entah karena memang rasanya cukup baik atau karena ada alasan lain yang tidak bisa diukur dengan lidah, Bu Wati menghabiskan semuanya sampai piring bersih.

Cerita Pengorbanan Orang Tua, Pelajaran yang Tidak Ada di Buku Teks

Kisah pengorbanan ayah dan ibu seperti yang ada di atas ini adalah pelajaran karakter paling kuat yang bisa kamu berikan kepada si kecil, jauh melampaui pelajaran akademik apapun. Ketika anak memahami bahwa di balik setiap hari yang mereka jalani dengan nyaman ada cinta yang bekerja tanpa henti, sesuatu berubah di dalam diri mereka, sesuatu yang tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata.

Di Apple Tree Pre-School BSD yang berlokasi di Gedung Educenter BSD, kami percaya bahwa pendidikan karakter dimulai dari rumah dan dilanjutkan di sekolah. Melalui mata pelajaran Moral, Social Studies, dan Bahasa dalam kurikulum Singapura yang kami adopsi, kami membantu anak membangun rasa empati, bakti, dan kasih sayang yang akan menjadi pondasi karakter mereka seumur hidup. Program kami tersedia dari Toddler usia satu setengah tahun hingga Kindergarten 2 usia enam tahun, semuanya dirancang dengan penuh kasih dan penuh tujuan. Lihat selengkapnya di halaman program kelas kami.

Temukan Lebih Banyak Cerita Seru dan Bermakna untuk Si Kecil!

Koleksi cerita pengorbanan orang tua ini hanyalah satu dari banyak cerita yang bisa kamu bagikan kepada si kecil. Jelajahi juga cerpen hewan lucu yang menggemaskan, cerita fantasi anak yang merangsang imajinasi, dan cerpen terbaik sepanjang masa yang wajib ada di daftar bacaan kamu dan si kecil.

Kamu juga bisa menemukan cerita fabel penuh pesan moral, cerita rakyat Indonesia dari berbagai daerah Nusantara, dongeng pendek populer untuk malam yang singkat, dongeng princess sebelum tidur yang menenangkan hati, dongeng lucu yang bikin si kecil tertawa lepas, dan dongeng sebelum tidur terbaik untuk anak Indonesia. Semuanya gratis dan siap menemani momen paling berharga antara kamu dan si kecil!

Bantu Si Kecil Tumbuh Berkarakter Bersama Apple Tree Pre-School BSD!

Anak yang tumbuh dengan memahami makna pengorbanan dan kasih sayang adalah anak yang akan tumbuh menjadi manusia yang penuh rasa syukur, penuh empati, dan penuh cinta kepada orang-orang di sekitarnya. Dan fondasi itu paling kuat dibangun sejak usia paling dini, di rumah dan di sekolah yang tepat.

Di Apple Tree Pre-School BSD, kami hadir untuk menjadi bagian dari perjalanan tumbuh kembang si kecil yang paling berharga ini.

Mendaftar sekarang dan biarkan si kecil tumbuh cerdas, berkarakter, dan bahagia bersama teman-teman dan guru-guru yang menyayanginya!

πŸ“± WhatsApp: Hubungi kami πŸ“ž Telepon: +62 888-1800-900 🌐 Website: www.appletreebsd.com

Ayo bermain dan belajar dengan anak lain di Apple Tree Pre-School BSD! Karena anak yang mengerti arti pengorbanan hari ini akan tumbuh menjadi manusia yang paling berharga di masa depan. πŸ’›πŸŒ³βœ¨

Comments

Be the first to write a comment.

Your feedback