5 Contoh Naskah Drama Pendek untuk Pentas Seni di Sekolah Dasar

5 Contoh Naskah Drama Pendek untuk Pentas Seni di Sekolah Dasar

Sebentar lagi pentas seni di sekolah dan kamu masih bingung cari naskah drama yang pas untuk anak-anak tampil? Tenang, kamu tidak sendirian. Kami di Apple Tree Pre-School BSD juga sering menghadapi momen ini, mencari cerita yang cukup sederhana untuk dihafal anak-anak tapi tetap seru ditonton dan penuh pesan moral.

Yang bikin pusing itu biasanya bukan soal dekorasi panggung atau kostumnya. Justru bagian paling menantang adalah menemukan naskah drama pendek yang dialognya natural, tokohnya relatable, dan ceritanya bisa selesai dalam waktu singkat tanpa membuat penonton (terutama para orangtua) ketiduran di kursi. Kami paham betul perasaan itu!

Nah, kabar baiknya, kami sudah menyiapkan 5 contoh naskah drama pendek untuk anak SD yang siap kamu pakai langsung. Setiap naskah sudah lengkap dengan dialog, petunjuk panggung, dan pesan moral yang kuat. Tinggal cetak, latihan, dan tampil!

Kumpulan Naskah Drama Pendek Anak SD yang Seru dan Penuh Pesan Moral

Setiap contoh naskah drama di bawah ini dirancang khusus agar mudah dipentaskan, dialognya ringan, dan temanya relevan dengan kehidupan sehari-hari anak. Cocok banget untuk pentas seni, tugas sekolah, atau kegiatan ekskul drama.

1. Sahabat Sejati (Tema: Persahabatan dan Kejujuran)

2-contoh-naskah-drama-anak-sekolah-tentang-persahabatan-jujur-ghibli_www.appletreebsd.com

Tokoh: Rani, siswa kelas 4 yang rajin dan jujur Dika, sahabat Rani yang suka iseng Bu Sari, wali kelas yang tegas tapi penyayang Lina, teman sekelas yang pendiam 

Babak 1: Di Kelas Sebelum Ujian (Suasana kelas pagi hari. Anak-anak duduk di bangku masing-masing. Bu Sari berdiri di depan kelas.) 

Bu Sari: “Anak-anak, hari ini kita ujian Matematika. Ibu harap kalian semua sudah belajar. Ingat, kerjakan sendiri ya. Tidak boleh mencontek.” (Bu Sari membagikan soal ujian. Semua anak mulai mengerjakan. Dika terlihat gelisah, ia menoleh ke kiri dan kanan.) 

Dika: (berbisik ke Rani) “Rani, Rani! Nomor tiga jawabannya apa? Aku lupa rumusnya.” 

Rani: (berbisik balik dengan muka serius) “Dika, kerjakan sendiri. Aku nggak mau nyontek.” 

Dika: “Ayolah, kita kan sahabat. Masa sahabat nggak mau bantu?” 

Rani: “Justru karena kita sahabat, aku nggak mau kamu dapat nilai yang bukan hasil usahamu sendiri.” (Dika cemberut dan kembali menatap soalnya. Ia mencoba mengerjakan sendiri dengan susah payah.)

Babak 2: Waktu Istirahat di Kantin (Rani dan Dika duduk bersebelahan di kantin. Dika terlihat kesal.) 

Dika: “Rani, kamu jahat banget sih tadi. Aku kan cuma minta bantuan.” 

Rani: “Dika, coba pikir. Kalau aku kasih jawaban, kamu memang dapat nilai bagus hari ini. Tapi besok? Lusa? Kamu tetap nggak bisa Matematika. Itu bukan bantuan namanya.” (Lina datang menghampiri mereka dengan membawa buku.) 

Lina: “Dika, kalau kamu mau, aku bisa ajarin Matematika sepulang sekolah. Aku juga dulu nggak bisa, tapi setelah latihan terus akhirnya mengerti.” 

Dika: (terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil) “Kamu serius, Lina? Mau ngajarin aku?” 

Lina: “Tentu! Kita belajar bareng di perpustakaan. Rani juga boleh ikut.” 

Rani: (tersenyum lebar) “Nah, itu baru namanya saling bantu yang benar!” 

Babak 3: Seminggu Kemudian, Pengumuman Nilai (Bu Sari berdiri di depan kelas dengan kertas nilai di tangan.) 

Bu Sari: “Ibu sangat bangga. Nilai ujian susulan minggu ini banyak yang meningkat. Dan Ibu mau kasih apresiasi khusus untuk Dika yang nilainya naik dari 50 menjadi 80!” (Semua anak bertepuk tangan. Dika tersenyum malu dan menoleh ke Rani dan Lina.) 

Dika: (berdiri) “Terima kasih, Bu. Tapi ini semua karena Rani dan Lina yang sudah mengajari aku. Rani mengajari aku tentang kejujuran, dan Lina mengajari aku Matematikanya.” 

Rani: “Itu baru sahabat sejati!” (Semua anak tertawa dan bertepuk tangan. Bu Sari tersenyum bangga.) Bu Sari: “Ingat ya anak-anak, sahabat sejati bukan yang membantu kamu curang, tapi yang membantu kamu menjadi lebih baik.” 

~SELESAI~ 

Pesan moral: Sahabat sejati adalah yang mendorong kita untuk jujur dan berkembang, bukan yang membantu kita mengambil jalan pintas.

2. Si Pemberani dari Kelas Belakang (Tema: Keberanian dan Anti-Bullying)

3-teks-drama-singkat-pesan-moral-anti-bullying-olahraga-ghibli_www.appletreebsd.com

Tokoh: Bayu, anak pendiam yang duduk di bangku belakang Raka, anak populer yang suka mengejek Sinta, ketua kelas yang tegas Pak Adi, guru olahraga yang bijaksana 

Babak 1: Di Halaman Sekolah Saat Istirahat (Bayu sedang duduk sendirian di bangku taman sambil membaca buku. Raka datang bersama dua temannya.) 

Raka: (dengan nada mengejek) “Wah wah, lihat si Bayu. Istirahat malah baca buku. Nggak punya teman ya?” Bayu: (menunduk, suaranya pelan) “Aku suka baca buku, Raka.” 

Raka: “Pantas saja nggak ada yang mau main sama kamu. Kerjaannya baca terus, kayak robot.” (Raka dan teman-temannya tertawa. Bayu menunduk lebih dalam. Sinta yang lewat melihat kejadian itu dan menghampiri.) 

Sinta: “Raka! Apa yang kamu lakukan?” 

Raka: “Biasa aja, Sinta. Kita cuma bercanda.” 

Sinta: “Bercanda itu kalau dua-duanya ketawa. Bayu nggak ketawa tuh. Itu namanya bukan bercanda, itu mengejek.” 

Raka: (mengangkat bahu) “Ya sudah, ayo pergi.” (Raka dan temannya pergi.) 

Babak 2: Di Kelas Olahraga (Pak Adi mengumumkan lomba lari estafet antar kelas. Setiap kelas harus mengirim empat pelari.) 

Pak Adi: “Siapa yang mau jadi pelari untuk kelas kita?” (Raka langsung mengangkat tangan dengan percaya diri. Tiga anak lain juga ikut. Tapi di hari lomba, satu pelari sakit dan tidak bisa ikut.) 

Sinta: “Gawat, kita kurang satu orang! Siapa yang bisa menggantikan?” (Semua anak saling pandang. Tidak ada yang berani. Tiba-tiba Bayu mengangkat tangannya pelan.) 

Bayu: “Aku bisa lari.” 

Raka: (tertawa kecil) “Kamu? Yang kerjaannya baca buku?” 

Sinta: “Raka, diam. Bayu, kamu yakin?” 

Bayu: (mengangguk mantap) “Aku yakin.” 

Babak 3: Saat Lomba Estafet (Suasana lapangan ramai. Giliran pelari terakhir, kelas Bayu tertinggal di posisi ketiga. Bayu menerima tongkat estafet sebagai pelari penutup.) 

Sinta: (berteriak dari pinggir lapangan) “Bayu, ayo! Kamu bisa!” (Bayu berlari sekencang mungkin. Kakinya yang ternyata sangat cepat membuat semua orang terkejut. Ia menyalip pelari kedua, lalu pelari pertama, dan melewati garis finish sebagai juara pertama!) (Semua anak kelas bersorak. Raka berdiri terpaku dengan mulut terbuka.) 

Babak 4: Setelah Lomba (Raka menghampiri Bayu yang sedang minum di pinggir lapangan.) 

Raka: (menunduk malu) “Bayu, maafkan aku. Aku selama ini sudah salah menilai kamu. Kamu ternyata keren banget.” 

Bayu: (tersenyum) “Nggak apa-apa, Raka. Semua orang punya kemampuan yang berbeda. Aku suka baca buku DAN suka lari. Dua-duanya bisa kok.” 

Pak Adi: (menghampiri dan menepuk bahu Bayu) “Anak-anak, ingat ya. Jangan pernah menilai seseorang dari luarnya saja. Pahlawan sejati tidak selalu yang paling ribut, kadang ia duduk diam di bangku belakang.” (Semua anak bertepuk tangan. Raka dan Bayu berjabat tangan.) 

~SELESAI~ 

Pesan moral: Jangan pernah meremehkan orang lain karena penampilannya. Setiap orang punya kehebatan yang mungkin belum terlihat.

3. Pahlawan di Rumah (Tema: Menghargai Orangtua)

4-naskah-drama-anak-sd-menghargai-orang-tua-ibu-ghibli_www.appletreebsd.com

Tokoh: Amel, anak kelas 5 yang mulai suka protes Mama, ibu rumah tangga yang sabar tapi kelelahan Kak Rendi, kakak Amel yang sudah SMP Nenek, yang datang berkunjung 

Babak 1: Pagi Hari di Rumah (Suasana dapur pagi. Mama sudah sibuk memasak sejak subuh. Amel turun dari kamar dengan muka cemberut.) 

Amel: “Ma, kenapa bekal aku nasi goreng lagi? Aku bosan, Ma. Temen-temen aku bekalnya sandwich, pasta, macem-macem.” 

Mama: (tersenyum sambil terus menggoreng) “Maaf ya sayang, pagi ini Mama buru-buru. Nasi gorengnya Mama bikin pakai bumbu spesial lho.” 

Amel: “Nggak mau! Aku mau yang lain!” (Amel mendorong kotak bekalnya ke pinggir meja dan pergi ke ruang tamu.) (Mama terdiam. Tangannya yang memegang spatula sedikit gemetar. Kak Rendi yang melihat dari tangga menggelengkan kepala.) 

Babak 2: Di Sekolah Saat Makan Siang (Amel membuka bekalnya dengan malas. Teman sebelahnya, Tia, melihat nasi gorengnya.) 

Tia: “Wah, Amel! Nasi gorengmu kelihatan enak banget. Boleh aku coba sedikit?” 

Amel: “Ambil aja semuanya kalau mau. Aku bosan.” 

Tia: (makan satu suap, matanya berbinar) “Ini enak banget! Ibuku nggak pernah masak. Aku selalu beli di kantin karena Mama dan Papa kerja dari pagi sampai malam. Kadang aku kangen masakan rumah.” (Amel terdiam mendengar kata-kata Tia. Perasaan bersalah mulai muncul di hatinya.) 

Babak 3: Sepulang Sekolah, Nenek Berkunjung (Nenek duduk di ruang tamu. Amel masuk dan langsung memeluk Nenek.) 

Nenek: “Amel sayang, kok mukanya kusut begini?” 

Amel: “Nek, aku tadi jahat sama Mama. Aku nggak mau makan bekalnya dan protes.” 

Nenek: (mengelus rambut Amel) “Kamu tahu nggak, dulu waktu Mama kamu masih kecil seperti kamu, Nenek juga sering masak nasi goreng untuk bekalnya. Dan kamu tahu apa yang Mama kamu bilang setiap hari?” 

Amel: “Apa, Nek?” 

Nenek: “Dia bilang, ‘Nasi goreng buatan Mama paling enak sedunia.’ Setiap hari, tanpa bosan.” (Amel diam. Matanya mulai berkaca-kaca.)

Babak 4: Malam Hari di Dapur (Mama sedang mencuci piring sendirian. Amel datang pelan-pelan dari belakang dan memeluk Mama dari samping.) 

Amel: “Mama, maafin Amel ya. Amel tadi jahat banget. Amel nggak akan protes lagi soal bekal.” 

Mama: (meletakkan piring dan memeluk Amel) “Nggak apa-apa, sayang.” 

Amel: “Mulai besok, Amel mau bantu Mama di dapur. Amel mau belajar masak juga.” 

Kak Rendi: (muncul dari balik pintu sambil tepuk tangan pelan) “Nah, gitu dong adek gue. Kalau bisa bikin nasi goreng sendiri, abang juga mau dong dibuatin.” (Semua tertawa. Mama memeluk kedua anaknya dengan erat.) 

Mama: “Kalian berdua adalah bekal terbaik yang Mama punya.” 

~SELESAI~

Pesan moral: Orangtua adalah pahlawan tanpa kostum yang bekerja keras setiap hari. Menghargai apa yang mereka berikan, sekecil apa pun, adalah bentuk cinta yang paling nyata.

4. Kotak Ajaib Pak Guru (Tema: Rajin Belajar dan Rasa Ingin Tahu)

5-cerita-drama-sekolah-lucu-dan-mendidik-guru-kreatif-ghibli_www.appletreebsd.com

Tokoh: Pak Budi, guru kelas yang kreatif dan misterius Fajar, anak yang malas belajar tapi suka main game Nisa, anak yang selalu penasaran dan suka bertanya Doni, anak yang rajin tapi pendiam 

Babak 1: Pagi Hari di Kelas (Pak Budi masuk kelas membawa sebuah kotak kayu besar yang ditutup kain merah. Semua anak langsung ribut penasaran.) 

Fajar: “Pak Budi bawa apa tuh? Besar banget!” 

Nisa: “Iya Pak, apa isinya? Boleh kita lihat?” 

Pak Budi: (tersenyum misterius) “Ini adalah Kotak Ajaib. Di dalamnya ada sesuatu yang sangat berharga. Tapi hanya boleh dibuka oleh anak yang bisa menjawab tiga tantangan dari Bapak hari ini.” 

Fajar: (berbisik ke teman sebelahnya) “Paling isinya buku pelajaran. Males ah.” 

Pak Budi: “Tantangan pertama, siapa yang bisa menceritakan satu hal baru yang kalian pelajari minggu ini di luar sekolah?” (Kelas hening sejenak. Nisa mengangkat tangan.) 

Nisa: “Pak, minggu ini aku belajar bahwa bunga matahari selalu menghadap ke arah matahari! Aku baca di ensiklopedia yang Mama belikan.” 

Pak Budi: “Bagus sekali, Nisa! Itu namanya heliotropisme. Satu tantangan selesai!” 

Babak 2: Tantangan Kedua Pak Budi: “Tantangan kedua. Siapa yang bisa membuktikan bahwa belajar itu menyenangkan?” (Anak-anak bingung. Doni yang biasanya pendiam perlahan mengangkat tangan.) 

Doni: “Pak, boleh saya tunjukkan sesuatu?” 

Pak Budi: “Silakan, Doni.” (Doni maju ke depan dan mengeluarkan sebuah roket kecil dari kertas yang bisa terbang menggunakan karet gelang.) 

Doni: “Minggu lalu saya belajar tentang gaya dorong di buku sains. Lalu saya coba bikin roket kertas ini di rumah. Ternyata seru banget, Pak!” (Doni meluncurkan roketnya dan roket itu terbang melintasi kelas. Semua anak berteriak kagum dan bertepuk tangan.) 

Pak Budi: “Luar biasa, Doni! Kamu membuktikan bahwa belajar dan bermain bisa digabungkan. Dua tantangan selesai!” 

Fajar: (mulai tertarik, berbisik) “Wah, keren juga ya.” 

Babak 3: Tantangan Ketiga Pak Budi: “Tantangan terakhir. Ini yang paling sulit. Siapa yang berani mengakui bahwa ada pelajaran yang belum dia mengerti dan mau meminta bantuan?” (Kelas hening. Semua anak saling pandang. Tidak ada yang mau terlihat ‘bodoh’ di depan teman-teman. Setelah beberapa detik, Fajar pelan-pelan mengangkat tangannya.) 

Fajar: (dengan muka merah) “Pak, saya belum mengerti soal pecahan di Matematika. Saya malu bertanya selama ini karena takut diketawain.” (Kelas sunyi. Tapi tidak ada yang tertawa. Malah beberapa anak mengangguk setuju.) 

Nisa: “Aku juga kadang bingung soal pecahan, Fajar.” 

Doni: “Sama, aku juga nggak langsung ngerti kok.” 

Pak Budi: (tersenyum bangga) “Fajar, kamu baru saja melakukan sesuatu yang sangat berani. Mengakui bahwa kita belum tahu itu bukan kelemahan, itu adalah langkah pertama untuk bisa belajar lebih banyak. Tiga tantangan selesai!” 

Babak 4: Pembukaan Kotak Ajaib (Pak Budi memanggil Fajar, Nisa, dan Doni ke depan. Mereka bertiga membuka kotak bersama-sama. Di dalamnya ada sebuah cermin besar.) 

Fajar: “Lho, cermin? Apa ajaibnya?”

Pak Budi: “Coba kalian bertiga lihat ke dalam cermin. Apa yang kalian lihat?” 

Nisa: “Kami bertiga, Pak.” 

Pak Budi: “Tepat. Sesuatu yang paling berharga di dalam kotak ini adalah KALIAN. Anak-anak yang punya rasa ingin tahu, keberanian, dan kreativitas. Itulah harta yang paling ajaib di dunia ini.” (Semua anak terdiam sejenak, lalu bertepuk tangan. Fajar tersenyum lebar untuk pertama kalinya.) 

Fajar: “Pak Budi, mulai besok, ajarin aku soal pecahan ya, Pak?” Pak Budi: “Dengan senang hati, Fajar.” 

~SELESAI~ 

Pesan moral: Keberanian untuk bertanya dan mengakui ketidaktahuan adalah pintu pertama menuju ilmu yang sesungguhnya. Setiap anak punya harta karun di dalam dirinya.

5. Peri Sampah dan Taman Sekolah (Tema: Menjaga Lingkungan)

6-naskah-drama-pendek-menjaga-kebersihan-lingkungan-sekolah-ghibli_www.appletreebsd.com

Tokoh: Putri, anak kelas 3 yang peduli lingkungan Aldi, anak yang suka membuang sampah sembarangan Kiki, sahabat Putri yang kreatif Peri Hijau, tokoh imajinatif yang muncul dari taman (bisa diperankan guru atau kakak kelas) 

Babak 1: Istirahat di Taman Sekolah (Taman sekolah yang dulunya hijau dan indah kini terlihat kotor. Ada bungkus jajanan, botol minum, dan kertas bertebaran di mana-mana. Putri dan Kiki duduk di bangku taman dengan muka sedih.) 

Putri: “Kiki, lihat taman kita. Dulu kan bagus banget, banyak kupu-kupu. Sekarang kok jadi kotor gini ya?” 

Kiki: “Iya, aku juga sedih. Orang-orang buang sampah sembarangan sih.” (Aldi lewat sambil makan keripik. Setelah habis, ia melempar bungkusnya ke semak-semak.) 

Putri: “Aldi! Kenapa buang sampah di situ? Tempat sampahnya ada di sana!” 

Aldi: (santai) “Ah, cuma satu bungkus, nggak ngaruh. Nanti juga dibersihkan sama tukang kebun.” Putri: “Semua orang bilang ‘cuma satu.’ Kalau semua anak di sekolah ini buang ‘cuma satu,’ sudah berapa banyak sampah di taman ini?” 

Aldi: (mengangkat bahu dan pergi) 

Babak 2: Peri Hijau Muncul (Sore hari. Putri sedang memunguti sampah di taman sendirian. Tiba-tiba, dari balik pohon besar, muncul Peri Hijau dengan kostum daun dan sayap yang berkilau.) 

Peri Hijau: “Terima kasih, anak kecil. Kamu satu-satunya yang peduli pada taman ini.” 

Putri: (terkejut) “Siapa kamu?!” 

Peri Hijau: “Aku adalah Peri Hijau, penjaga taman sekolah ini. Dulu, taman ini adalah tempat paling indah. Bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu berterbangan, dan udara terasa segar. Tapi sejak manusia mulai membuang sampah sembarangan, taman ini perlahan mati.” 

Putri: “Apa yang bisa aku lakukan?” 

Peri Hijau: “Kamu sudah melakukannya, Putri. Kamu peduli. Sekarang, ajaklah teman-temanmu. Satu orang memang kecil, tapi banyak orang bisa mengubah dunia.” (Peri Hijau memberikan Putri sebuah benih tanaman kecil.) 

Peri Hijau: “Tanam ini di tengah taman. Jika kalian merawatnya bersama, keajaiban akan terjadi.” 

Babak 3: Putri Mengajak Teman-teman (Keesokan harinya, Putri berdiri di depan teman-teman sekelasnya.) 

Putri: “Teman-teman, aku punya ide. Bagaimana kalau kita bersih-bersih taman dan menanam tanaman baru? Kita bikin taman kita indah lagi!” 

Kiki: “Aku ikut! Aku bisa bikin pot dari botol bekas!” (Beberapa anak antusias. Tapi Aldi diam di bangkunya.) 

Aldi: “Ngapain capek-capek? Nanti juga kotor lagi.” 

Putri: “Aldi, justru karena pasti kotor lagi, kita perlu terus merawatnya. Sama seperti badan kita yang harus dimandiin setiap hari, bukan cuma sekali seumur hidup kan?” (Anak-anak tertawa. Aldi juga sedikit tersenyum.) 

Babak 4: Satu Bulan Kemudian (Taman sekolah kini bersih dan hijau kembali. Ada pot-pot lucu dari botol bekas buatan Kiki. Ada bunga-bunga berwarna-warni. Kupu-kupu terlihat berterbangan kembali. Di tengah taman, tanaman pemberian Peri Hijau sudah tumbuh menjadi pohon kecil yang indah.) (Aldi berdiri di depan pohon kecil itu sambil menyiramnya.) 

Putri: (menghampiri dengan senyum) “Aldi? Kamu menyirami pohonnya?” 

Aldi: (sedikit malu) “Iya. Aku nggak mau taman ini kotor lagi. Aku mau kupu-kupu itu tetap tinggal di sini.” 

Kiki: “Wah, Aldi sudah jadi pejuang lingkungan sekarang!” (Semua anak tertawa. Dari kejauhan, di balik pohon besar, terlihat Peri Hijau tersenyum bangga sebelum menghilang perlahan.) 

Putri: (menatap teman-temannya) “Lihat, ternyata kita bisa kok. Kalau kita peduli dan mau bekerja sama, hal kecil bisa jadi sesuatu yang luar biasa.” 

~SELESAI~ 

Pesan moral: Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab semua orang, termasuk anak-anak. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama.

Manfaat Bermain Drama untuk Perkembangan Anak

Naskah drama pendek bukan hanya sekadar hiburan untuk pentas seni. Di balik proses latihan dan pementasan, ada banyak sekali manfaat yang tersimpan untuk tumbuh kembang anak. Bermain drama melatih kemampuan berbicara di depan umum, membangun rasa percaya diri, mengasah daya ingat, dan yang paling penting, mengajarkan empati karena anak harus merasakan emosi tokoh yang diperankannya.

Di Apple Tree Pre-School BSD yang berlokasi di Gedung Educenter BSD, kami menjadikan kegiatan drama dan storytelling sebagai bagian penting dari kurikulum Singapura yang kami terapkan. Mulai dari program Toddler sampai Kindergarten 2, anak-anak diajak untuk berekspresi, bercerita, dan tampil percaya diri di depan teman-temannya.

Kami percaya bahwa anak yang terbiasa bermain peran sejak kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih ekspresif, empatik, dan berani menghadapi tantangan. Dan itu semua dimulai dari naskah drama sederhana yang dibacakan dengan penuh semangat.

Yuk, Bangun Kepercayaan Diri Anak Sejak Dini!

Kalau kamu termasuk orangtua yang ingin si kecil tumbuh menjadi anak yang percaya diri, ekspresif, dan berkarakter kuat, maka lingkungan belajar yang tepat adalah kuncinya. Di Apple Tree Pre-School BSD, setiap hari adalah panggung kecil bagi anak-anak untuk berekspresi dan menemukan potensi terbaiknya.

Dari program Toddler, Pre-Nursery, Nursery, Kindergarten 1, hingga Kindergarten 2, semuanya dirancang agar si kecil tidak hanya cerdas secara akademis tapi juga kaya secara emosional dan sosial.

Mendaftar sekarang dan biarkan si kecil menjadi bintang di panggungnya sendiri!

πŸ“± WhatsApp: Hubungi kami πŸ“ž Telepon: +62 888-1800-900 🌐 Website: www.appletreebsd.com

Ayo bermain dan belajar dengan anak lain di Apple Tree Pre-School BSD. Karena setiap anak punya cerita hebat yang menunggu untuk ditampilkan! 🌳🎭

Comments

Be the first to write a comment.

Your feedback