Kebiasaan Yang Bisa Bikin Malu Anak 

Kebiasaan Membuat Anak Malu

Apakah Anda pernah mendengar istilah child shaming? Istilah tersebut merupakan istilah dimana jika seorang anak malu atau dipermalukan, hal ini sering kali terjadi secara sadar maupun tidak, dan pelaku hal tersebut bisa siapa saja, dan tentu saja kita sebagai orang tua bisa saja merupakan pelaku hal tersebut.

Pernah ada pengalaman dimana ada seseorang melihat secara langsung dimana dirinya sedang berada di tempat umum, dirinya melihat seorang gadis kecil berusia enam tahun dan meminta sesuatu benda atau barang kepada sang ibu dengan cara berbisik, tetapi yang terjadi kemudian, sang ibu langsung memberikan respon dengan cara berteriak atau dengan suara besar di depan orang banyak atau di depan umum.

Air mata langsung keluar di pipi gadis tersebut, suasana di sekitar sana juga menjadi hening untuk beberapa saat, setelah itu baru orang-orang yang tadi-nya terdiam kembali beraktivitas seperti sebelum-nya, seolah tidak ada yang terjadi barusan.

Meski begitu, kita harus bisa membayangkan posisi kita di gadis kecil tersebut dimana dirinya mengalami hal tersebut di depan umum.

Kita mungkin pernah melihat hal tersebut atau secara tidak sadar kita melakukan apa yang dilakukan oleh orang tua tersebut kepada si kecil, itu adalah salah satu child shaming yang sering terjadi secara umum. Hal tersebut terjadi secara langsung atau secara lisan, ada di kehidupan sehari-hari maupun di dunia maya.

Kejadian tersebut bisa saja berdampak pada perkembangan si anak, pengaruh hal tersebut bisa berbeda-beda, tergantung pada intensitas dan frekuensi hal tersebut apakah jangka panjang atau jangka pendek.

Shaming Child sendiri memang banyak yang jarang menyadari-nya.  Anastasia Moloney, spesialis pengembangan anak usia dinia mengatakan bahwa ada beberapa hal yang jarang disadari orang tua bahwa yang mereka lakukan sebenarnya merupakan tindakan yang tentu saja bisa membuat anak malu.

Berikut adalah yang paling sering dilakukan oleh orang tua secara tidak sadar kepada si kecil.

 

Banyak kasus dalam beberapa hal mempermalukan anak kita secara tidak langsung dengan cara mendisiplinkan anak, meski begitu jika di lakukan dengan cara yang salah justru bisa membuat harga diri sang anak menjadi rendah.

Apabila sang anak melakukan kesalahan saat berada di tempat umum, lalu orang tua langsung memarahi sang anak di depan anak lain tentu saja hal tersebut bisa membuat sang anak malah merasa dipermalukan.

Kondisi ini tentu saja bisa fatal jika terjadi terus menerus, untuk itu, kita lebih baik mengajak anak kita berbicara empat mata, suruh sang anak mendengarkan secara efektif, lalu jelaskan kepada anak dengan lembut tetapi tegas mengenai peraturan yang anak Anda langgar.

 

Memberikan saran kepada anak, menolong atau mengarahkan anak kepada sesuatu yang menurut kita benar tentu saja tidak ada salah-nya, tetapi bukan berarti hal tersebut harus dilakukan secara berlebihan, terlalu mengarahkan anak tentu saja bisa menekan kemandiriannya untuk dapat memutuskan sesuatu mengenai diri mereka sendiri.

Anak sendiri tentu saja perlu belajar dari kesalahan yang dirinya lakukan, menurut Moloney, kebiasaan selalu memperbaiki kesalahan sang anak agar sang anak menjadi sempurna malah membuat kepercayaan diri sang anak malah menjadi rendah, karena sang anak akan berpikir bahwa yang dilakukannya selalu kurang di mata orang tua mereka.

Contoh sederhana yang terjadi adalah dimana ketika sang anak setelah mandi dimana si anak sebenarnya bisa belajar mengenakan baju sendiri tanpa dibantu oleh orang tua, tetapi orang tua terkadang memilih untuk membantu sang anak agar cepat selesai, hal ini tentu saja akan membuat sang anak malah ketergantungan kepada orang tua mereka setelah mandi, dan tidak akan mengajarkan sang anak untuk dapat memakai baju nya sendiri karena kebiasaan dari orang tua yang selalu memakaikan baju tersebut kepada sang anak.

 

Banyak orang tua yang selalu menetapkan target selalu tinggi kepada sang anak dan setelah itu langsung kecewa pada anak-nya, hal tersebut secara tidak langsung akan memberikan beban kepada sang anak dan membuat anak menjadi malu, cobalah untuk menurunkan ekspetasi kepada anak agar tidak terlalu tinggi, harapan tersebut tentu saja bisa berubah sesuai dengan kondisi anak, selain itu Anda juga harus pikirkan konsekuensi dari harapan yang Anda buatkan kepada anak Anda, biarkanlah anak Anda memproses segalanya sejak kecil sendiri.

 

Ketika anak Anda sudah besar, membiarkan anak Anda untuk memilih merupakan hal yang penting, tetapi Anda tentu saja harus waspada karena Anda harus memahami pilihan si kecil juga untuk hal tersebut, Anda harus bisa menilai selain sudut pAndang orang tua, karena jika Anda hanya menilai dari sudut pAndang Anda, Anda bisa membuat sang anak merasa tertekan, takut, dan tidak belajar dari pengalaman.

Jangan langsung menilai pilihan anak Anda dari sisi Anda, Anda juga harus mengetahui kebutuhan anak Anda dan alasan mengapa anak Anda memilih hal tersebut, dan langsung menilai buruk, karena tentu saja nada harus menjawab dengan jawaban yang tepat dan jelaskan kepada sang anak jika Anda ingin menjaga perasaan sang anak.

Semoga informasi di-atas ini bisa membantu Anda agar Anda tidak melakukan child shaming kepada anak Anda yah, apalagi jika Anda sering melakukannya secara terus menerus, karena itu bisa membuat anak Anda tidak percaya diri.

 

Exit mobile version