Junk Food Membuat Anak Alergi?

Junk Food

Makan makanan junk food memang akan lebih menggiurkan ketimbang makan makanan sehat seperti sayur sayuran, meski memang enak, makanan tersebut bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan jika di konsumsi secara berlebihan, beberapa studi melaporkan salah satu dampak dari junk food, yakni bisa meningkatkan risiko alergi pada anak.

Siapa yang tidak ingin mencoba junk food? Makanan tersebut biasanya disajikan dengan kombinasi yang membuat lidah kita menyukai-nya, dari rasa gurih, manis, dan asin, semua lengkap. Perlu Anda ketahui bahwa jika sering dikonsumsi, junk food juga bisa meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, dan juga diabetes.

Peneliti mengamati anak yang berusia enam hingga dua belas tahun yang memiliki dua jenis alergi berbeda, yakni alergi makanan dan alergi pernapasan. Dan hasil dari penelitian tersebut, anak yang memiliki alergi makanan memiliki tingkat senyawa terkait alergi yang lebih tinggi dibawah permukaan kulitnya dibandingkan anak yang mengalami alergi pernapasan.

Setelah dicek lebih dalam, penyebab potensial tersebut adanya senyawa advanced glycation end products yang lebih sering dikenal dengan AGEs. Senyawa tersebut sering ditemukan pada makanan olahan, yang terbentuk ketika molekul gula berikatan dengan protein atau lemak yang terkena suhu panas.

AGEs juga bisa ditemukan pada daging steak yang dibakar hingga dagingnya berwarna kecokelatan atau kentang yang digoreng dalam minyak panas, kadar AGEs yang tinggi pada junk food tersebut yang membuat anak memiliki kemungkinan beresiko memiliki alergi makanan.

Meski begitu, tentu saja harus ketahui bahwa junk food juga bukanlah satu-satunya penyebab alergi pada anak Anda, ada penelitian yang menunjukkan adanya kemungkinan junk food menjadi penyebab alergi pada anak, tetapi hal tersebut bukanlah satu-satunya penyebab anak Anda alergi.

“Penyebab alergi tentu saja beragam, termasuk adanya genetika dan lingkungan sekitar,” kata dr. Elliot.

“Makanan olahan memang kurang memiliki keragaman protein, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami peran AGEs dalam berkembangnya alergi makanan,” lanjut sang dokter.

Selain junk food, memang ada beberapa faktor yang sering disebut ikut turun berperan dalam menyebabkan alergi makanan pada anak selain junk food seperti:

Terlambat mengenalkan makanan pada anak bisa menyebabkan alergi, seperti kacang atau telur bisa membuat peningkatan risiko terjadinya alergi makanan di kemudian hari.

 

Menggunakan sabun antibakteri atau pembersih tangan memang akan membuat anak kita tercegah dari infeksi, tetapi terlalu sering dapat membuat kekebalan tubuh anak menjadi lemah dan kurang toleran terhadap pathogen (zat penyebab penyakit).

 

Perubahan suhu yang terus berubah rubah juga dapat mempengaruhi kinerja sistim kekebalan tubuh dan mengarah pada peningkatan risiko alergi makanan.

 

Paparan ibu hamil pada alergen seperti polusi dan bahan kimia juga bisa mempengaruhi kesehatan janin, pola makan yang kurang sehat juga bisa mempengaruhi alergi pada anak Anda karena tentu saja hal tersebut berkaitan dengan sistim imun.

 

Penggunaan antibiotik lebih dini juga bisa membuat anak dapat terkena alergi, selain itu, antasida yang dikonsumsi anak anak juga mempengaruhi pH lambung dan cara usus mencerna serta menyerap nutrisi makanan sehingga risiko alergi makanan tentu saja meningkat.

 

Apakah alergi tersebut bisa dicegah? Terjadinya alergi makanan pada anak memang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, dan hal tersebut bisa dicegah, tetapi ada yang tidak bisa dicegah jika hal tersebut terjadi karena kondisi genetic.

Orang tua bisa mencegah lebih awal dengan mengenalkan makanan seperti kacang atau telur sesuai usia sang anak, lalu Anda bisa membantu anak untuk menerapkan gaya hidup yang lebih sehat, seperti mengurangi konsumsi junk food.

Jika Anda kesulitan, tentu saja Anda tidak perlu ragu untuk berkonsultasi pada dokter anak, dokter akan membantu Anda untuk membantu mencegah anak Anda terkena alergi pada kemudian hari.

 

Exit mobile version