Pagi ini, Kara yang berusia 4 tahun masuk ke ruang membaca sambil membawa buku cerita. Ibunya berharap Kara akan menunjuk huruf demi huruf dan mengeja seperti kebanyakan anak belajar membaca. Namun, yang terjadi justru berbeda. Kara langsung membuka buku, melihat gambar, dan mulai menceritakan apa yang dia lihat dengan suara lantang. Beberapa kata dia ucapkan dengan benar, beberapa tidak, tetapi itulah yang luar biasa. Dia sedang belajar membaca tanpa mengeja.
Banyak orangtua berpikir bahwa belajar membaca harus dimulai dengan menghafal alfabet, mengenal huruf demi huruf, lalu mengeja sebelum bisa membaca dengan utuh. Padahal, ada cara yang jauh lebih alami dan efektif. Kami di Apple Tree Pre-School BSD telah melihat ratusan anak yang berhasil belajar membaca tanpa mengeja, dan hasilnya jauh lebih bermakna dan berkelanjutan.
Mari kami bagikan pendekatan ini kepada Anda, sehingga anak Anda juga bisa merasakan kesenangan belajar membaca dengan cara yang alami.
Memahami Membaca Tanpa Mengeja dan Mengapa Ini Penting
Belajar membaca tanpa mengeja adalah pendekatan yang disebut “whole language” atau “phonics with comprehension.” Bukan berarti mengabaikan phonics atau bunyi huruf, tetapi tentang mengintegrasikan pengenalan bunyi dengan arti dan konteks secara bersamaan.
Ketika anak belajar membaca tanpa mengeja, mereka tidak lagi memecah setiap kata menjadi huruf demi huruf. Sebaliknya, mereka mulai mengenali pola, kata-kata yang sering muncul, dan konteks dari cerita untuk memahami arti. Ini jauh lebih mirip dengan cara orang dewasa membaca dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini penting karena membaca seharusnya menyenankan dan bermakna, bukan sekadar tugas mekanis yang membosankan. Anak yang belajar dengan cara ini cenderung mengembangkan kecintaan yang lebih kuat terhadap membaca dan pemahaman yang lebih dalam.
Mulai dengan Membaca Bersama dan Menciptakan Cinta terhadap Cerita
Langkah pertama dalam belajar membaca tanpa mengeja adalah mengenalkan anak pada cerita dan buku berkualitas sejak dini. Membaca bersama bukan hanya tentang mengenali kata, tetapi juga tentang menciptakan ikatan emosional dengan buku dan cerita.
Saat kami membaca bersama di kelas, Miss Tina selalu membuat sesi membaca menjadi interaktif dan menyenankan. Dia tidak hanya membaca, tetapi juga mengajak anak menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, bertanya tentang cerita, dan merayakan bagian-bagian yang menarik. Dengan cara ini, anak mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan, bukan tugas yang harus diselesaikan.
Cara membuat reading session efektif:
- Pilih buku dengan ilustrasi yang menarik dan cerita yang mudah dipahami.
- Baca dengan ekspresi dan intonasi yang bervariasi.
- Berhenti sejenak dan ajak anak untuk menebak atau berbagi pendapat mereka.
- Ajukan pertanyaan terbuka tentang cerita.
- Baca buku yang sama berkali-kali tanpa bosan.
- Ciptakan ritual membaca yang konsisten, misalnya sebelum tidur.
Anak yang sering diajak membaca bersama akan secara alami terbiasa dengan pola, kata, dan alur bahasa. Ini adalah dasar untuk membaca yang sukses tanpa mengeja.
Mengenali Kata Tingkat Tinggi dan Sight Words
Setelah anak sudah terbiasa dengan cerita dan menikmati membaca, langkah berikutnya adalah membantu mereka mengenali kata tingkat tinggi atau sight words. Kata-kata ini sering muncul dalam teks dan tidak bisa diprediksi hanya dari phonics saja.
Kata-kata seperti “the,” “and,” “is,” “to,” “a,” harus dikenali dengan pengenalan langsung tanpa perlu mengeja atau memecahnya. Ketika anak sering melihat kata-kata yang sama dalam berbagai cerita dan konteks, mereka akan secara alami mengenalinya.
Di kelas kami, Miss Sarah menggunakan buku asli dan kegiatan berbasis konteks untuk mengajarkan sight words. Tidak dengan flashcard yang monoton, tetapi dengan cerita yang menarik di mana kata-kata ini muncul berulang kali. Anak-anak melihat “the cat,” “the dog,” “the house” dalam berbagai cerita, dan perlahan “the” menjadi familiar dan langsung dikenali.
Tips untuk membantu recognition:
- Sorot atau garis kata-kata yang sudah dikenal dalam buku yang dibaca.
- Tunjukkan kata-kata yang sudah dikenal anak dalam berbagai konteks.
- Mainkan permainan yang melibatkan mencari kata yang sudah dikenal dalam teks.
- Gunakan pengulangan secara alami melalui cerita yang menarik, bukan drilling.
- Rayakan ketika anak mengenali kata tanpa harus mengeja.
Menggunakan Petunjuk Konteks dan Gambar untuk Memahami Makna
Salah satu keterampilan paling penting dalam belajar membaca tanpa mengeja adalah menggunakan petunjuk konteks dan gambar untuk memahami makna dari kata-kata yang belum dikenal. Anak perlu tahu bahwa mereka tidak harus mengenal atau memecahkan setiap kata untuk memahami cerita.
Saat anak membaca dan menemukan kata yang tidak mereka tahu, ajaklah mereka untuk melihat gambar, berpikir tentang apa yang terjadi dalam cerita sebelumnya, dan menebak apa arti kata tersebut. Ini adalah keterampilan yang sangat berharga dan digunakan oleh pembaca dewasa setiap hari.
Koko, anak berusia 5 tahun, bertanya tentang kata “telescope” dalam cerita. Alih-alih mengejanya, kami bertanya, “Lihat gambar ini. Apa yang dipegang anak dalam gambar? Apa fungsinya untuk melihat apa?” Koko melihat gambar, menyadari itu adalah alat untuk melihat bintang, dan memahami arti dari “telescope” tanpa harus mengeja huruf demi huruf.
Dengan pendekatan ini, anak mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman yang jauh lebih berharga daripada hanya bisa memecahkan kata.

Image Source: Canva
Dorong Membaca Mandiri dan Biarkan Mereka Membuat Kesalahan
Untuk benar-benar belajar membaca tanpa mengeja, anak harus memiliki kesempatan untuk membaca secara mandiri dan membuat kesalahan. Jangan terlalu sering mengoreksi atau menghentikan mereka. Biarkan mereka berjuang sedikit, menemukan kata-kata dari konteks, dan mengembangkan rasa percaya diri mereka sebagai pembaca.
Ketika anak membaca sendiri dan salah menyebutkan kata, jangan langsung mengoreksi. Amati dulu. Jika kesalahan itu tidak mempengaruhi pemahaman, biarkan. Jika memang penting, tunggu sampai anak selesai membaca, lalu dengan lembut sebutkan, “Saya perhatikan kamu membaca kata ini sebagai… Sebenarnya itu adalah…” sambil menjelaskan dalam konteks.
Kepercayaan diri adalah kunci untuk membaca mandiri. Anak yang sering dikritik akan mengembangkan kecemasan dan menghindari membaca. Namun, anak yang diberi ruang untuk mencoba, membuat kesalahan, dan belajar akan mengembangkan pola pikir berkembang dan kecintaan terhadap membaca.
Bagaimana support independent reading:
- Sediakan buku yang sedikit menantang namun mudah diakses.
- Jangan hentikan atau koreksi setiap kesalahan.
- Ajukan pertanyaan pemahaman setelah mereka selesai membaca.
- Rayakan usaha dan ketekunan, bukan kesempurnaan.
- Ciptakan ruang membaca yang nyaman di rumah.
- Biarkan mereka memilih buku yang mereka minati.
Mengintegrasikan Menulis dan Berbicara dalam Perjalanan Membaca
Belajar membaca tanpa mengeja tidak terpisah dari menulis dan berbicara. Sebaliknya, ketiga keterampilan ini saling mendukung dan memperkuat. Ketika anak menulis kata-kata yang familiar dari cerita atau berbicara tentang cerita, mereka semakin memperdalam pemahaman mereka.
Di kelas, kami mendorong anak-anak untuk menceritakan kembali cerita dengan kata-kata mereka sendiri, menggambar gambar dari cerita dan memberi label dengan kata-kata, atau bahkan membuat cerita sederhana mereka sendiri. Kegiatan ini membantu mereka menghubungkan antara membaca, menulis, dan berbicara.
Aira, anak berusia 4 tahun, membuat cerita sendiri tentang “Hungry Caterpillar” setelah kami membaca buku itu berkali-kali. Dia menggambar ulat, menggambar makanan yang dimakan, dan dengan bantuan kami, memberi label pada setiap gambar. Dalam proses ini, dia memperkuat kata-kata yang sudah dikenal dan mengembangkan kesadaran menulis tanpa instruksi formal.
Integrasi seperti ini menjadikan membaca bagian dari perkembangan bahasa yang holistik, bukan keterampilan terisolasi yang harus dikuasai.

Image Source: Canva
Membaca adalah Journey, Bukan Perlombaan
Belajar membaca tanpa mengeja adalah pendekatan yang menghormati cara alami anak mengembangkan keterampilan literasi. Ini bukan soal kecepatan atau mencapai tonggak pada usia tertentu, tetapi tentang mengembangkan kecintaan seumur hidup terhadap membaca dan pemahaman yang kuat.
Setiap anak unik dalam kecepatan dan gaya mereka belajar membaca. Ada yang sudah mengenali kata pada usia 3 tahun, ada yang baru percaya diri pada usia 5 atau 6 tahun. Semua ini normal dan wajar. Yang penting adalah anak menikmati prosesnya, mengembangkan hubungan positif dengan membaca, dan secara bertahap membangun kepercayaan diri mereka sebagai pembaca.
Develop Reading Skills Anak di Apple Tree Pre-School BSD
Kami percaya bahwa belajar membaca tanpa mengeja adalah pendekatan yang alami dan efektif untuk mengembangkan pembaca yang kuat. Di Apple Tree Pre-School BSD, yang berlokasi di Gedung Educenter BSD, kami mengintegrasikan pendekatan ini dalam kurikulum kami.
Mulai dari Phonics, pembelajaran bahasa Inggris, hingga kegiatan kreativitas, program kami dirancang untuk mendukung perkembangan membaca dengan cara yang menyenangkan, bermakna, dan berpusat pada anak. Tim pendidik kami terlatih untuk mengenali kecepatan unik setiap anak dan memberikan dukungan yang sesuai.
Di program Toddler hingga Kindergarten 2, anak-anak memiliki paparan harian terhadap cerita berkualitas, kesempatan untuk membaca secara interaktif, dan dukungan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka sebagai pembaca. Kami percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat, setiap anak bisa menjadi pembaca yang antusias.
Ayo bergabung dengan kami dan lihat anak Anda menemukan kegembiraan membaca! Hubungi kami di WhatsApp atau telepon +62 888-1800-900 untuk konsultasi gratis dan demo kelas. Anda juga bisa mengunjungi Apple Tree Pre-School BSD untuk bertemu dengan tim kami dan melihat bagaimana kami menumbuhkan kecintaan membaca di setiap kelas.
Mari tumbuh dan belajar bersama! 🌟