Yuk, Jauhkan Budaya Menyontek dari Anak

Pasti ingat, zaman dahulu di sekolah banyak teman saling menyontek, bukan. Atau, jangan-jangan, Anda salah satunya? Ya, menyontek sepertinya sudah menjadi budaya apalagi dengan tuntutan sekolah yang makin tinggi. Terlebih lagi, kehadiran teknologi sekarang mempermudah kegiatan menyontek – bukan hanya menyontek pada teman, tetapi juga melihat langsung sumber jawaban dengan menggunakan internet.

Pertama, Anda bisa memulai dengan mengenali kenapa anak menyontek. Bisa jadi ekspektasi Anda terlalu tinggi, pemberian hukuman, atau juga tugas dan ujian yang terlalu banyak. Usahakan, Anda dapat dipercaya oleh anak supaya dia merasa nyaman bercerita masalah tentang pelajarannya di sekolah.

 

Damping Proses Belajar Anak

Source – pixabay

Penyebab anak terpikir untuk menyontek atau meniru jawaban adalah ketidaksiapan akan materi tertentu. Oleh karena itu, pastikan anak Anda selalu siap untuk sekolahnya. Pantau terus apakah ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan atau apakah ada ujian yang akan dilaksanakan keesokan harinya.

Dampingi anak dalam belajar sehingga dia merasa siap untuk menghadapi pelajaran. Dengan begitu, secara otomatis anak akan menghindari budaya menyontek. Untuk membantunya belajar, Anda bisa mengajarkannya teknik belajar cepat supaya anak Anda tidak mudah lelah dalam belajar.

 

Hindari Hukuman Saat Nilainya Turun

Source – pixabay

Salah satu penyebab anak berusaha untuk meniru jawaban temannya atau mencari jawaban lewat gadget adalah respons orang tua pada saat melihat nilai anak. Hindari tanggapan yang berlebihan atau marah ketika anak mendapatkan nilai yang jelek.

Anda bisa membesarkan hatinya dan menyemangatinya untuk belajar lebih giat untuk tugas dan ujian berikutnya. Dengan begitu, anak tidak akan panik dan berusaha melakukan segala cara untuk mendapatkan nilai yang baik. Utarakan ekspektasi Anda terhadap anak sambil diiringi dengan pendampingan belajar yang memadai.

 

Ajarkan Anak untuk Selalu Percaya Diri

Source – pixabay

Menyontek adalah salah satu ciri ketidakpercayaan diri seseorang. Oleh karena itu, mengajarkan anak untuk percaya diri bisa mengajarkannya untuk menjauhi budaya menyontek sejak dini. Ini adalah salah satu karakter positif yang bisa Anda bangun pada anak. Anak perlu percaya pada dirinya sendiri dan menghargai hasil yang dia dapatkan.

Katakan kepada anak Anda bahwa Anda menghargai hasil jerih payah belajar yang dia hasilkan. Jadi, anak tidak akan merasa rendah diri pada saat nilainya turun atau tidak sesuai dengan harapannya.

 

Menyontek Itu Tidak Keren

Source – Brilio.net

Tanamkan kepada anak Anda bahwa menyontek itu tidak keren dan tidak harus dilakukan. Terkadang, anak menyontek dan memberi jawaban kepada teman sebagai bentuk tekanan teman sebaya atau peer pressure. Teman-teman yang memiliki budaya menyontek akan mempengaruhi anak Anda untuk ikut menyontek dan saling memberikan jawaban.

Untuk itu, Anda perlu menarik anak agar suka belajar. Dengan begitu, anak Anda akan terus terpacu untuk belajar sendiri tanpa harus meminta jawaban pada temannya. Untuk anak yang berprestasi, ajarkan cara berbicara yang baik kepada temannya bahwa dia tidak ingin memberikan jawaban. Karena, hasil belajar sendiri itu lebih keren!

 

Walaupun begitu, budaya menyontek bisa juga tumbuh subur di sekolah karena adanya pembiaran dari pihak sekolah. Oleh karena itu, komunikasikan juga kepada guru di sekolah bahwa Anda mau menanamkan prinsip tidak menyontek pada anak Anda. Mungkin, guru di sekolah bisa membantu dengan cara menjauhkan posisi tempat duduk anak Anda dari anak-anak yang terbiasa menyontek.

Budaya menyontek harus mulai dihilangkan dari generasi penerus bangsa. Dengan hilangnya budaya negatif tersebut, banyak hal yang bisa lebih dikembangkan dari anak yaitu kreatifitas, kecerdasan, prestasi, dan kepercayaan diri.